Tulungagung, Sinar Pos –
Ahmad Baharudin atau lebih dikenal Ahmad Bahar menggelar ngopi bareng di Stasiun 88 Pinka, Tulungagung, Sabtu (29/06) malam.
Hadir dalam acara tersebut, Gus Ali dari Majan, Gus Dillah dari Tawangsari dan Gus Toha dari Pakel.
Ahmad Bahar mengaku merasa terharu setelah tiba di kota marmer Tulungagung.
Menurutnya banyak tempat menarik dan layak dikunjungi di daerah Tulungagung. Diantaranya Warkop Pinka, Warkop Waris Bolo, juga Desa Majan dan Tawangsari yang dulu dikenal tanah perdikan.
Dalam acara Ngopi bareng tersebut Ahmad Bahar, Alumni Fakultas Sastra UGM Yogyakarta bercerita tentang suka dukanya sebagai penulis buku.
Diantara ratusan buku yang pernah ia tulis, seperti para presiden, kapolri dan tokoh nasional lainya, namun Buku berjudul Gibran The Next President yang paling kontroversi.
Meski demikian dia yakin buku Gibran The Next President akan terjual pesat di pasaran. Karena masyarakat penasaran dan rasa ingin tahu tentang isi buku tersebut.
Ia sengaja menyoroti kehidupan Gibran sebagai fenomena budaya dan tidak bermuatan politik. Judul buku dipilih untuk menarik minat para pembaca.
Ketika ditanya wartawan senior, Arief Gringsing tentang alasan menulis buku dengan judul Gibran The Next President, dia mengungkapkan Sosok Gibran bisa menjadi motivasi anak muda di Indonesia untuk mempunyai karakter dan keberanian mengambil langkah – langkah positif untuk kemajuan bangsa, meski banyak hambatan.
” Saya berharap buku Gibran The Next President akan laris di pasaran , sehingga hasilnya untuk mendirikan Pondok Pesantren,” terangnya.
Gus Ali, Gus Dillah dan Gus Toha berpendapat pro kontra berpendapat dalam menyikapi buku tersebut itu wajar – wajar saja di negera demokrasi. Bahkan mereka sangat mendukung buku Gibran The Next President beredar di masyarakat.
Dalam acara ngopi bareng di Pinka mereka juga membahas tentang berbagai permasalahan yang lagi marak di masyarakat.
Diantaranya kasus judi online dan prostitusi online.
Ahmad Bahar berpendapat jika masalah Judi online dan prostusi online tidak segera ditertipkan dan diatasi sangat berdampak di masyarakat. Karena korbannya mulai anak – anak hingga orang dewasa.
Kemajuan teknologi telah menjadi salah satu alasan terjadinya degradasi etika seseorang. Akibatnya moral semakin terkikis akibat kemajuan teknologi yang tidak di barengi dengan penanaman sikap budi luhur yang masif. Interaksi antar manusia secara langsung semakin berkurang, karena pertemuan fisik sudah tak diminati. Hal ini yang menjadikan praktik prostitusi online semakin marak.
” Untuk itu saya berharap para Gus yang hadir disini untuk memberikan masukan tentang buku Gibran The Next President dan permasalahan yang lagi marak di negeri kita , yakni judi online serta prostitusi online,” ucapnya.
Gus Ali sangat mendukung bulu Gibran The Next President beredar di masyarakat. Karena kearifan lokal harus dipertahankan bisa menjadi panetral.
Menurutnya Tulungagung itu penetral. Melalui buku itu bisa menjadi pembelajaran. Bahkan sebaiknya buku tersebut tidak hanya di cetak, namun di pdfkan agar mudah diakses semua orang.
” Saya berharap melalui buku ini bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat,” ungkapnya.
Menurutnya tentang judi online dia sepakat dilegalkan. Diibaratkan jika minuman keras tersebut tidak di atur maka semua orang akan membuat minuman tradisional oplosan.
Begitu juga tempat prostitusi tentunya semakin merajalela. Ia memberi contoh jika tempat prostitusi di tutup tanpa ada solusi dampaknya semakin meluas. Sebab jika tidak mendapatkan tempat khusus malah mereka akan berpindah – pindah mencari mangsanya.
” Begitu juga kasus judi online, jika pemerintah pernah melegalkan itu bermaksud ada pembatasan dan tidak marak dimana – mana,” ungkapnya.
Gus Abdillah dengan tegas juga sangat mendukung buku Gibran The Next President itu beredar di masyarakat, meski ada yang menganggap kontroversi.
Dalam menyikapi judi dan prostitusi online yang lagi marak kali ini, ia percaya pemerintah bisa mengatasinya.
Ia mengatakan,jika pemerintah sampai melegalkan judi online untuk menertibkan dan membatasinya, saya berharap para santrinya tidak ada yang tertarik dan menjadi korbannya.
” Saya berharap para jamaah dan santri saya, tidak tertarik dengan judi dan prostitusi online,” terangnya.
Menurutnya jika judi online dilegalkan sama seperti orang gelandangan perlu tidak dikasih rumah, dia memilih perlu di kasih rumah.Dari pada semua tempat dijadikan rumah, emperan toko dijadikan rumah, tentu sangat memprihatinkan. Jadi siapapun perlu tempat, namun harus dibatasi.
Sementara itu Gus Toha dari Pakel juga sangat mendukung buku Gibran The Next President, meski banyak kendala seperti mundurnya penerbit.
Anggota MUI yang juga pengasuh Pondok Pesantren ini yakin apa yang ditulis di buku tersebut ke depan akan menjadi kenyataan.
Sedangkan menyikapi permasalahan tentang judi dan protitusi online yang lagi marak saat ini dia berharap Pemerintah bisa mengatasinya.
Ia menjelaskan maraknya prostitusi online akibat dari mudahnya para PSK mempromosikan dirinya di media sosial dengan mudah diakses oleh calon pengguna jasa untuk dipesan.
Menurutnya, Pemerintah harus bisa mengkaji dan mengevaluasi dampak dari kasus tersebut di masyarakat.
” Pemerintah harus bisa mempertimbangkan dampak mudhorotnya, sehingga dapat mengatasi kasus tersebut secara profesional,” pungkasnya. ( Har)









