PEKALONGAN, SINARPOS. CO. ID —
Ratusan peserta memeriahkan Kirab Budaya Pekalongan Art Week yang berlangsung di Kota Pekalongan. Beragam kesenian dan budaya lokal ditampilkan dalam kegiatan yang mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat.Kamis (24/9/26)
Kirab budaya tersebut sekaligus menjadi gebrakan perdana Dewan Kesenian dan Budaya Kota Pekalongan (DKBKP) periode 2026 setelah melalui proses Musyawarah Daerah. Periode baru ini dipimpin Ketua DKBKP, A. Saeri.
Ketua DKBKP A. Saeri mengatakan, kirab melibatkan ratusan peserta dari berbagai unsur seni, budaya, pendidikan, hingga pelaku usaha.
“Kirab budaya ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai unsur, antara lain Reog Kota Batik, Kuntulan, seratus penari Sintren, Batik Carnival, drumband, angklung, paguyuban seni budaya, komunitas musik, teater, tari, puisi, seni rupa, pelaku UMKM dan kuliner, serta pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum,” ujar A. Saeri.
Menurutnya, rangkaian Pekalongan Art Week semula direncanakan berlangsung selama tujuh hari. Namun, karena adanya kondisi tertentu, seluruh rangkaian kegiatan kemudian dipadatkan menjadi tiga hari.
Meski demikian, A. Saeri menegaskan pemadatan waktu tidak mengurangi substansi kegiatan yang telah direncanakan.
“Hal ini tidak mengurangi isi kegiatan yang telah direncanakan. Justru seluruh pertunjukan, pameran, dan pemberdayaan UMKM kami sempurnakan agar lebih padat dan bermakna,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kota Pekalongan, Sabaryo Pramono, menyampaikan apresiasi Pemerintah Kota Pekalongan terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Saya mewakili Pemerintah Kota menyampaikan apresiasi dan terima kasih sekali kepada Dewan Kesenian dan Budaya Kota Pekalongan. Yang baru merintis saja sudah begitu meriah, sudah menunjukkan kemampuan di bidang seni dan budaya,” ungkap Sabaryo.
Ia menilai kemeriahan kegiatan tersebut menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap seni dan budaya.
“Harapan kami, kegiatan ini dapat berkembang dan menjadi acara rutin di tahun-tahun mendatang, sehingga memberikan kesempatan kepada para seniman dan budayawan untuk semakin menginspirasi, berkreasi, serta menunjukkan kemampuan terbaiknya di bidang masing-masing,” lanjutnya.
Nuansa budaya semakin kuat dengan kehadiran Graha Tosan Aji Pekalongan dalam kirab. Ketua Graha Tosan Aji Pekalongan, Ustadz Rifqon Arodli, turut membawa Keris Toyo Mampet yang nantinya diserahkan kepada pejabat di Panggung Kehormatan.
Ustadz Rifqon menjelaskan, Keris Toyo Mampet memiliki filosofi yang berkaitan dengan kebersamaan dan kemampuan beradaptasi.
“Yang saya bawa adalah Keris Toyo Mampet, yang memiliki filosofi dan melambangkan kebersamaan serta kemampuan untuk beradaptasi dalam segala hal,” jelasnya.
Menurut Ustadz Rifqon, nilai-nilai budaya perlu terus diuri-uri dan dikaji secara mendalam agar dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Ia menilai Pekalongan selama ini dikenal sebagai kota budaya, namun kajian terhadap budaya itu sendiri masih perlu terus dikembangkan agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memaknai berbagai warisan budaya.
Ke depan, Graha Tosan Aji berencana menggelar kegiatan kajian budaya secara berkala, di antaranya setiap Kliwonan atau Paingan. Kajian tersebut akan mencakup berbagai aspek, mulai dari estetika, seni, hingga kebudayaan dalam berbagai bentuk.
Selain itu, Graha Tosan Aji juga merencanakan program podcast yang akan digelar di gedung atau kantor Rehat Kota Pekalongan sebagai salah satu ruang untuk membahas dan memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada masyarakat.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, diharapkan generasi muda Pekalongan dapat terus menjaga dan memelihara warisan budaya. Pelestarian budaya juga diharapkan berjalan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga budaya tidak hanya diwariskan, tetapi juga dipahami dan dikaji secara lebih mendalam.(Chumaidi)









