SINAR POS

Program Adaptation Fund Tuntas, Delapan Infrastruktur Diserahkan ke Pemkot Pekalongan

Sebagai bentuk keberlanjutan program, delapan infrastruktur hasil program tersebut diserahterimakan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan dalam kegiatan Serah Terima Aset dan Dokumen Hasil Program Adaptation Fund di Eco Eduwisata Degayu, Kelurahan Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara, Jumat sore (30/10/2026).

Wali Kota Pekalongan, H. A. Afzan Arslan Djunaid atau yang akrab disapa Aaf, menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi atas kontribusi Kemitraan Indonesia bersama seluruh elemen masyarakat dalam menyukseskan program tersebut. Menurutnya, berbagai pembangunan dan kegiatan pemberdayaan yang telah dilaksanakan memberikan manfaat nyata, khususnya dalam mendukung pengembangan ekowisata dan penguatan kapasitas masyarakat di wilayah terdampak perubahan iklim.

“Buat saya ini berita gembira dan berita sedih. Gembiranya karena alhamdulillah proyek Adaptation Fund dari Kemitraan Indonesia sejak tahun 2021 di Kota Pekalongan ini sudah selesai. Banyak sekali yang sudah dibangun maupun program yang sudah berjalan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari Pokdarwis, anak-anak muda dan masyarakat,” tuturnya.

Aaf mengungkapkan, Kota Pekalongan menjadi salah satu daerah yang mendapat kesempatan menjadi proyek pertama dalam program tersebut. Bahkan, pengalaman pelaksanaan Adaptation Fund di Kota Pekalongan sempat menjadi referensi dalam forum Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), ketika sejumlah daerah tertarik mengetahui proses dan upaya memperoleh dukungan program serupa.

Ia juga mengingat kembali kunjungan delegasi dari sekitar 20 negara yang pernah datang untuk melihat kondisi dan pelaksanaan program di Kota Pekalongan.

“Berbagai upaya penanganan dampak perubahan iklim yang telah dilakukan turut memberikan kontribusi terhadap berkurangnya dampak banjir rob secara signifikan. Meski demikian, Saya mengakui ada rasa haru karena berakhirnya pendampingan tersebut juga berarti berakhirnya kebersamaan intensif dengan tim Kemitraan Indonesia,”ungkapnya.

Ia berharap, komunikasi dan silaturahmi tetap terjalin sehingga peluang kerja sama dan program lanjutan dapat kembali terwujud. Salah satu pekerjaan rumah yang masih menjadi perhatian Pemkot Pekalongan adalah pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal.

“Mudah-mudahan program-program yang masih menjadi PR bisa kita susulkan. Kita tetap berkomunikasi dengan Kemitraan Indonesia dan Adaptation Fund, mudah-mudahan ke depan bisa ada kerja sama lagi dan program lagi. Yang lebih penting, silaturahmi tetap berjalan dan ini menjadi berkah untuk kita semua,” jelasnya.

Melalui serah terima delapan infrastruktur tersebut, Pemkot diharapkan dapat memastikan keberlanjutan pemanfaatan aset sekaligus memperluas dampak positif program bagi masyarakat.

Aaf pun berpesan kepada camat, lurah, Pokdarwis, dan seluruh warga agar bersama-sama menjaga keamanan, kebersihan, serta mengembangkan fasilitas yang telah tersedia. Ia berharap Eco Eduwisata Degayu tidak hanya menjadi aset fisik, tetapi juga tumbuh sebagai ruang rekreasi, edukasi lingkungan, dan penggerak ekonomi masyarakat pesisir.

“Jangan sampai setelah ditinggalkan Kemitraan dan Adaptation Fund, tempat ini justru terbengkalai atau disalahgunakan untuk hal-hal negatif. Mari kita jaga dan kembangkan bersama agar semakin baik dan bisa dimanfaatkan masyarakat, termasuk untuk mendukung UMKM dan wisata lokal,” tegasnya.

Sementara itu, Team Leader PMU Kemitraan Indonesia, Arief Mahmudi, menjelaskan bahwa, delapan infrastruktur yang dibangun melalui program tersebut tersebar di sejumlah lokasi, antara lain Kelurahan Degayu dan Kandang Panjang. Infrastruktur tersebut meliputi fasilitas ekowisata, demplot silvofishery, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), greenhouse, resto apung, hingga pusat edukasi arboretum mangrove.

Setelah diserahterimakan kepada Pemkot Pekalongan, pengelolaannya akan disesuaikan dengan kewenangan perangkat daerah terkait. Khusus Eco Eduwisata Degayu, pengelolaan akan dikoordinasikan melalui Dinparbudpora dengan melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sebagai pengelola di lapangan.

“Secara aturan dan kebijakan, Kemitraan Indonesia telah menyerahkan aset kepada pemerintah Kota. Selanjutnya, Pemkot Pekalongan mendisposisikan kepada dinas yang sesuai. Untuk ekowisata, nantinya Dinas Pariwisata yang menangani, sedangkan Pokdarwis menjadi pihak pengelola,” jelasnya.

Arief menambahkan, Eco Eduwisata Degayu memiliki potensi untuk dikembangkan tidak hanya sebagai destinasi wisata kuliner, tetapi juga wisata edukasi lingkungan. Salah satu daya tariknya adalah arboretum atau taman koleksi mangrove yang direncanakan memiliki 12 jenis mangrove, dengan enam jenis di antaranya telah tersedia.

“Keberadaan arboretum ini diharapkan menjadi sarana penelitian sekaligus pembelajaran bagi anak-anak sekolah untuk mengenal berbagai jenis mangrove dan manfaatnya bagi lingkungan pesisir. Selain itu, kami berharap keberadaan fasilitas tersebut dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, terutama kelompok yang terdampak perubahan iklim, melalui pengembangan lapak UMKM, kegiatan seni, hiburan, hingga aktivitas masyarakat lainnya,”terang Arief.

Manfaat keberadaan Eco Eduwisata Degayu juga mulai dirasakan masyarakat. Ayu Suryani, warga Krapyak yang datang bersama ibu dan anak-anaknya, mengaku senang dengan hadirnya destinasi wisata baru yang lokasinya relatif dekat dari tempat tinggalnya. Ia mengetahui keberadaan tempat tersebut melalui media sosial dan informasi teman-temannya.

“Senang, ada taman bermain dan taman anak-anak, jadi enggak usah jauh-jauh kalau mau wisata. Dekat lokasi rumah sudah ada taman untuk bersantai dan melihat pemandangan. Harapannya semoga tamannya semakin bagus dan fasilitasnya semakin lengkap. Kalau sudah komplit, saya ingin datang lagi, termasuk mencoba wisata perahunya,” tutupnya. ( Hadie )