Istana Karya Difabel (IKD) Membentuk Anak Tumbuh Lebih Cerdas

0
123

SURABAYA, SINARPOS.CO.ID – Salah satu pilar terpenting dalam ketersediaan aksesibilitas adalah pendamping bagi para penyandang disabilitas. Pendamping tersebut bukanlah orang sembarangan, melainkan mereka yang mengerti konsep kesetaraan dalam dunia disabilitas.

Interaksi tidak hanya melahirkan keakraban, tetapi juga kepedulian. Begitulah yang terjadi pada Bunda Rausika. Sejak bulan Juli 2020, perempuan yang akrab disapa Bunda itu mengajar anak-anak berkebutuhan khusus setiap hari Minggu sekali di Sentra Kuliner Convention Hall, Jl. Arief Rahman Hakim, Kec. Keputih, Surabaya.

Berangkat dari situ, sekelompok dari pengamen di Cafe-cafe yang terbentuk dalam komunitas Istana Karya Difabel (IKD). Komunitas ini rela menyediakan layanan pendampingan bagi para penyandang disabilitas secara sukarela. Pembina IKD, Bunda Rausika mengatakan, komunitas ini berdiri pada bulan Juli 2020.

Tak tanggung-tanggung, untuk memfasilitasi kegiatan belajar mengajar kesenian, Bunda Rausika bersama rekan-rekannya hingga rela mengamen dari Cafe ke Cafe yang ada di Surabaya.

“Tujuan kami sendiri dalam Komunitas IKD, yaitu membentuk pribadi yang mandiri dan mempunyai karya yang di terima di masyarakat,” terang bunda Rausika dilansir sinarpos.co.id Minggu (13/09/2020).

Mereka di antaranya adalah para penyandang disabilitas. Berbagai stigma pun mereka terima, yang bahkan terkadang berujung pada semakin terbatasnya ruang gerak mereka di tengah masyarakat.

Karena itu, harus ada gerakan aksi nyata untuk membantu saudara-saudari kita sejak dini yang hidup dengan disabilitas agar bisa berjalan beriringan dengan setara bersama seluruh lapisan masyarakat untuk bergerak bersama istana karya Difabel (IKD) membentuk anak tumbuh lebih cerdas.

“Untuk itu, IKD hadir untuk turut mendampingi adik-adik penyandang disabilitas agar mereka memiliki kesempatan yang setara dengan anak-anak bangsa lainnya untuk turut membangun Indonesia,” tutur Bunda.

“Disini juga adik-adik kami bina untuk berkarya dan menambah wawasan dalam bentuk seni lukis, musik dan ilmu tentang IT,” lanjutnya.

Seperti yang dialami Fahri (9), warga Gresik, ia sangat senang sekali dan lihai dalam memainkan Drummer biarpun ia merupakan disabilitas tuna rungu dan tuna netra.

Menurut Bunda Rausika, pihaknya juga membuka peluang bagi masyarakat yang mempunyai anak-anak yang memiliki keterbatasan mental untuk belajar supaya menjadi cerdas.

“Kami berharap acara media gathering ini akan menjadi jembatan komunikasi yang dapat menyuarakan seruan untuk berjalan bersama antara teman-teman penyandang disabilitas sehingga membuka kesempatan luas bagi penyandang disabilitas untuk hidup dan berkarya di berbagai bidang yang mereka harapkan,” ujar Bunda.

Pihaknya juga berharap, bagi siapa saja, yang memiliki anak keterbatasan Disabilitas, IKD siap untuk membelajari dan tidak memungut biaya sepeserpun dalam kegiatan belajar mengajarnya. (Rosi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here