Harkannas ke-6 2019, Ketua Forikan Arumi Dorong Mentalitas Konsumsi Ikan

0
241

Surabaya – Sinar Pos, Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan Nasional (Forikan) Jawa Timur, Arumi Emil Elestianto Dardak mendorong seluruh pihak, untuk membuat mentalitas rutin makan ikan di tengah-tengah masyarakat.

Tujuannya agar tingkat konsumsi ikan di Jatim meningkat, sehingga kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak terpenuhi. “Jika dulu, ibu menteri kelautan dan perikanan mengatakan, jika tidak makan ikan, harus ditenggelamkan.

Mentalitas seperti itu harus ditingkatkan, karena Indonesia adalah negara maritim, ”kata Ketua Forikan Arumi, saat dibuka puncak Hari Ikan Nasional (Harkannas) ke-6 Tahun 2019 di Dyandra Expo Surabaya, Kamis (21/11).

Ketua Forikan Arumi mengatakan, mentalitas rutin mengonsumsi ikan harus terus dibangun, sebab ikan memiliki nilai gizi yang tinggi. Selain itu, kita tinggal di negara maritim, wilayah lautannya lebih besar dari daratan.

Dengan demikian, potensi ikan kita pasti sangat besar, baik ikan laut, maupun ikan tawar.

“Sebagai negara maritim, kita ingin menjadikan ikan sebagai makanan pokok, sebab akan lucu jika orang Indonesia masih kurang gizi, padahal potensi ikannya banyak.

Dan ikan mengandung banyak nutrisi, mulai protein, karbohidrat, dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh, ”katanya. Lebih lanjut Ketua Forikan Arumi menyampaikan, per Oktober ini, tingkat konsumsi masyarakat Jatim sudah mencapai 36 kg per kapita / tahun.

Jumlah tersebut meningkat dari tahun lalu yang mencapai 34 kg per kapita / tahun.

Diriku meningkat, angka tersebut bisa meningkat hingga 40-an kg per kapita / tahun.

“Kami melihat trennya semakin naik, dan itu juga menjadi penyemangat kami. Terkait, kampanye tentang ayo, makan ikan, ada yang berhasil.

Harapannya, bisa meningkat terus, minimal berbeda tipis dengan Jepang, ”katanya. Agar tingkat konsumsi ikan Jati semakin meningkat, istri Wagub Jatim, Emil Elestianto Dardak ini mendorong seluruh elemen Forikan kabupaten / kota untuk menyasar pondok pesantren-pondok pesantren di wilayah masing-masing.

Sebab, Jatim memiliki ponpes yang sangat banyak, dengan ribuan santri maupun santriwati di dalamnya. “Kita harus memperhatikan gizi mereka, cukup di kabupaten / kota masing-masing, yang santrinya banyak..Bisa dibayangkan, yang harus dikasih makan per rutin, ada banyak Orang.

Mari kita sasar mereka, agar rutin mengkonsumsi ikan, ”ajaknya. Ditambahkannya, pentingnya menyasar ponpes, karena ponpes merupakan ujung tombak dari pendidikan generasi muda, yang menjadi harapan masa depan bangsa.

Sebab, di ponpes, mereka mendapatkan pendidikan plus-plus, yaitu edukasi, mental, dan spiritual. “Mengembalikan harapan kita pada santri-santri ini mengembalikan besar ..

Maka dari itu, jangan sampai kita kecolongan. Gizinya harus terpenuhi, mari kita sama-sama fokus ke sana, dan mudah-dapat menghasilkan generasi penerus yang berkualitas, untuk Indonesia yang lebih maju, ”katanya.

Pernyataan Ketua Forikan Arumi mendapat dukungan dari Ketua Forikan Nasional, Djoko Maryono. Dalam sambutannya, Djoko mengatakan, sebaiknya konsumsi ikan Indonesia termasuk dalam salah satu dari 117 negara yang memiliki tiga masalah gizi tinggi pada balita. Yaitu stunting, wasting dan overweight.

“Hal ini diterbitkan dalam Global Nutrition Report (GNR) 2014 Profil Negara Gizi Indonesia. Prevalensi ketiga masalah gizi tersebut adalah stunting 37,2%, buang 12,1% dan kelebihan berat badan 11,9%, ”katanya.

Ditambahkannya, pertumbuhan terhambat akibat gizi buruk dan stimulasi psikososial serta infeksi berulang meningkat dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari penderita kanker anak sebanyak dua tahun.

Stunting yang terjadi pada 1.000 HPK tidak hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan dan peningkatan terhadap penyakit, tetapi juga meningkatkan perkembangan kognitif yang meningkatkan pada tingkat kecerdasan dan potensi menurunnya produktivitas anak di masa dewasanya.

“Penurunan penghasilan ini, dapat membuat pendapatan menurun 10% selama hidup mereka.

Anak-anak yang kurang protein, juga bersiko meningkatkan risiko diabetes, dan penyakit jantung, ”katanya.

Karena itu, Ketua Forikan nasional Djoko mengingatkan pentingnya memulihkan budaya kembali ke meja makan ibu. Penyebab meja makan ibu adalah pengarahan gizi, pengarahan psikologi dan edukasi untuk keluarga.

Mulai maju bangsa ini kita mulai dari meja makan Ibu. “Untuk makanan kaum milenial ini terbiasa dengan konsep siap makan, dan untuk penyampaian informasi apa pun harus lewat gadget.

Maka, untuk menyeimbangkan letak gadget ini kita harus mengembalikan budaya ke meja makan ibu, ”tegasnya. Puncak Peringatan Harkannas ini dihadiri dalam undangan terdiri dari Kepala Dinas Perikanan se-Jatim, Kepala OPD di Pemprov Jatim, dan TP PKK Kabupaten / Kota se Jatim, serta para pendukung dari berbagai media. (Nw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here