Pemkot Mulai Lakukan Penataan Kawasan Wisata Perairan Berbasis Kearifan Lokal

0
6

Kota Pekalongan, Sinar Pos
Guna mewujudkan pembangunan kawasan terpadu, terarah dan berkelanjutan, Pemerintah Kota Pekalong mulai melakukan penataan bangunan dan lingkungan kawasan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara pada tahun 2019 sebagai Kawasan Wisata Perairan Berbasis Kearifan Lokal. Beberapa hal  dilakukan antara lain pematokan bidang tanah yang terdampak serta rancangan DED yang telah disusun oleh Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Dinperkim) Kota Pekalongan. Demikian diungkapkan Plt. Dinperkim Kota Pekalongan melalui Kepala Bidang Permukiman Dinperkim, Muhammad Wisnu Nugroho, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (10/4/2019).

Pada kesempatan tersebut, Wisnu mengatakan bahwa dua fokus yang akan dikerjakan dari penataan kawasan di wilayah Krapyak diantaranya dari Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang Provinsi (Pusdataru) Provinsi Jawa Tengah dalam menata kawasan Kali Loji dan Dirjen Cipta Karya Kementrian PU yang bertugas dalam mengatasi permukiman. Lebih lanjut, ia menjelaskan, Pemkot telah menyiapkan anggaran pada tahun 2019 sebesar Rp. 3,5 miliar untuk pembebasan  bidang tanah dan bangunan. Dinas Pusdataru Provinsi Jawa Tengah juga telah  menetapkan anggaran sebesar Rp3,5 miliar.

“Ini adalah program kolaborasi antara Pemkot dan Provinsi, dari anggaran yang sudah ada kita juga masih ada usulan dana anggaran lainnya karena program ini sifatnya multiyears. Pemkot membantu pembebasan lahan, sedangkan Provinsi bagian konstruksinya, yang dijadwalkan pada pertengahan tahun 2019 ini akan dimulai pembuatan normalisasi Kali Loji. Memang tujuan awalnya penataan kawasan ini untuk mengendalikan banjir maupun rob di wilayak Krapyak sekaligus mengangkat potensi wisata berbasis kearifan lokal yang ada di wilayah tersebu,” jelas Wisnu.

Diterangkan Wisnu, dari DED yang dibuat Dinas Pusdataru Provinsi Jateng, pembuatan tanggul normalisasi Kali Loji sepanjang 1,5 kilometer  akan dimulai dari sisi utara Krapyak yakni Jalan Mahakam hingga Taman Jlamprang. Dari pihak Provinsi setiap tahunnya hanya mampu mengerjakan sepanjang 200 meter saja.

“Dari 1,5 kilometer atau setara 1.500 meter, hanya bisa 200 meter setiap tahunnya. Maka secara perhitungan butuh kurang lebih 7 tahun selesai.  Itu baru di kawasan Krapyak, padahal dari keseluruhan DED nya terdapat total 11 kilometer, hingga wilayah Kuripan,” terang Wisnu.

Wisnu menyampaikan untuk mencegah luapan sungai, nantinya Kali Loji akan dilebarkan sekitar 25 meter. Setelah itu dipasang site pile yang berfungsi seperti tanggul. Kemudian dari parapet kurang lebih memiliki lebar 3 meter yang  didesain seperti tempat duduk, dan akan dibuat berundak. Baru nanti ada jalan inspeksi selebar 6 meter.

“Sementara untuk kawasan permukimannya, kami akan menyambungkan kawasan Krapyak dengan kawasan heritage di Jetayu dengan jembatan yang dikhususkan untuk sepeda dan becak. Selanjutnya akan dibuat ikon lopis raksasa sebagai ciri khas budaya yang ada di Krapyak, nanti saat perayaan tradisi pemotongan lopis raksasa pada Syawalan akan ada plaza dipusatkan juga disekitar Sungai tidak lagi di gang 8 agar dapat menampung lebih banyak pengunjung, tempat edukasi galangan kapal, dok kapal, pengembangan waterway, riverwalk, sentra batik, dan sebagainya. Orang yang baru mendengar pasti seperti mimpi, tapi kita optimis bahwa Kota Pekalongan bisa menjadi kota wisata yang indah dan menarik untuk wisatawan,” ungkap Wisnu.

Sementara itu, ditambahkan Walikota Pekalongan, Saelany Machfudz saat membuka FGD II kegiatan penyusunan RTBL Kawasan Krapyak di Ruang Kalijaga dua hari lalu, penataan kawasan Krapyak ini memang sangat betul-betul mempertimbangkan aspek historis, filosofis, dan arsitektual agar dapat diterima  sebagai icon kawasan. “Ini adalah paparan yang ke-2 yang dilihat dari aspek kondisi, potensi, dan peta konsep perencanaan,” tutur Saelany.

Ini merupakan sebagai bentuk upaya mewujudkan Kawasan Krapyak yang aman, nyaman, wisatanya berkembang. Kita lihat dari potensinya, Krapyak ini memiliki historis yang cukup panjang dari awal mula terbentuknya, sejarahnya, budaya dan lain sebagainya,” tandas Saelany.(Rustianto/Riki)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here