BUPATI KUKUHKAN 67 KEPALA SEKOLAH SMP DAN SD

0
27

KAJEN,  SINAR POS
Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si mengukuhkan 67 Kepala Sekolah Menengah atau SMP dan Sekolah Dasar atau SD, Kamis (11/4/2019) di aula lantai I Setda Kabupaten Pekalongan. Mereka terdiri dari 5 Kepala Sekolah SMP dan 62 Kepala Sekolah SD.

Pengukuhan dihadiri Sekretaris Daerah Dra. Hj. Mukaromah Syakoer, MM beserta para Asisten, Kepala BKD H. Totok Mulyanto, SE., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan H. Sumarwati, S.Pd.,M.AP serta beberapa perwakilan OPD lainnya dan seluruh Pengawas Sekolah SMP dan SD di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan.
Bupati dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kita sudah sepakat, kita sudah satu visi untuk memajukan dunia pendidikan di Kabupaten Pekalongan. “Saya ucapkan terima kasih selama ini para kepala sekolah sudah berjuang lahir dan bathin untuk mendidik anak-anak kita supaya menjadi anak yang berilmu, dan ilmunya bermanfaat untuk kehidupan selanjutnya. Ini adalah tugas mulia ditengah-tengah kesibukan para kepala sekolah,” ujar Bupati.

Dituturkan Bupati, pihaknya memahami akan kesibukan para Kepala Sekolah yang juga disibukan dengan tugas administrasi yakni terkait sertifikasi. “Tentu hal ini tidak boleh melupakan esensi tugas sebagai seorang guru untuk mendidik anak-anak kita. Silahkan tugas administrasi dikerjakan, poin-poin diselesaikan, tapi jangan melupakan tugas pokok dan fungsi selaku guru sekaligus kepala sekolah,” terangnya.

Kemudian yang paling penting, kata Bupati, karena para guru secara sosiologis mengajar pada generasi Z yakni generasi yang lahir setelah tahun 2000 ini yang memiliki karakter, pendekatan, keilmuan yang tentu berbeda waktu kita dulu.
“Untuk itu dibutuhkan kepiawaian para guru yang secara sosiologis diklasifikasikan sebagai generasi X yang rata-rata lahir tahun 70an-80an,” tutur Bupati.

Saat ini anak-anak kita mempunyai sifat individualistik yang asyik dengan dunianya sendiri, sudah tidak begitu peduli dengan lingkungan, dengan orang tuanya saja sudah tidak begitu peduli, termasuk dengan guru, dengan kawan seiring. Ini memang sebuah perubahan. Untuk itu diperlukan penguasaan baik itu sosiologis psikologis anak.

“Untuk itu di tengah situasi seperti itu kenali dengan baik akan karakter anak didik kita. Kalau sudah tahu persis karakternya, para guru sudah punya kemampuan ilmu untuk bagaimana agar anak didiknya bisa mengendalikan diri meskipun mereka bergantung dengan komputer, handphone, namun untuk tujuan yang positif konstruktif,” tambahnya. (Rustianto/riki)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here