Menambang Terlalu Dekat, Warga Ketap Usir Kapal Isap Timah

0
51

Bangka Barat, Sinar Pos

Sejumlah warga Desa Ketap, Kecamatan Parit Tiga, Kabupaten Bangka Barat (Babel) pada Senin (8/4) melakukan pengusiran sejumlah kapal isap timah yang menambang terlalu dekat dari garis pantai Pasir Panjang (perbatasan dengan Desa Penganak). Hal itu dikatakan seorang warga yang minta namanya dirahasiakan, dan menghubungi redaksi pada Selasa (9/4). Menurut warga tersebut sejumlah kapal isap itu, sebanyak 4 unit menambang timah berjarak antara 100 meter hingga 300 meter dari garis pantai Pasir Panjang. Mulai menambang pada hari Jum’at dan berakhir pada Senin, sekitar pukul 16.00 WIB. Saking dekatnya menurut warga tersebut, jika dilakukan pelemparan dengan batu diperkirakan akan mengenai kapal isap.

“Mulai menambang dengan jarak seperti itu hari Jum’at lalu. Jaraknya dari bibir pantai Pasir Panjang antara 100 meter hingga 300 meter. Mungkin banyak timahnya disana. Dan ada sekitar 4 unit kapal isap timah yang beraktifitas siang dan malam. Namun pada Senin sekitar pukul 15.00 WIB sejumlah warga Ketap dengan menggunakan perahu mulai memperingati kapal-kapal isap itu agar menjauh dan tidak menambang terlalu dekat lagi”, ujar warga tersebut.

Kapal-kapal isap timah menambang harus mengikuti Rencana Kerja (RK) yang dikeluarkan pemilik Ijin Usaha Penambangan (IUP). Jarak aman sebagaimana Zonasi Penambangan Laut antara 1 mil hingga 4 mil laut. Untuk penambangan timah laut metode kapal isap, cara kerjanya dengan cara menurunkan mesin pengeboran kedasar laut. Setelah itu, lalu disedot oleh mesin sedot melalui pipa sejumlah tanah dan pasir yang disinyalir mengandung bijih timah untuk dipisahkan diatas kapal dengan alat pemisah yang biasanya disebut mesin jek. Alat ini secara otomatis dapat memisahkan antara bijih timah dengan tanah dan pasir batu. Dari info yang diperoleh, kedalaman putaran mesin alat pemboran kapal isap tersebut hingga 30 meter atau lebih. Meninggalkan lubang dasar laut yang besar dan merusak isinya. Dalam hal ini ada dampak berupa bencana lingkungan.

Hal itu diakui oleh Kepala Bidang (Kabid) Tata Lingkungan dari Dinas Badan Lingkungan Hidup Propinsi Bangka belitung, Rusdi saat ditemui dikantornya (9/4). Ditemani Kasie LH, Fienda Revina mengatakan akibat operasional kapal isap timah, mengakibatkan terumbu karang hancur. Dampak lain, menimbulkan lumpur dan kekeruhan air laut dan pasti menyebabkan matinya biota laut. “Operasional kapal isap timah mengeluarkan lumpur, kekeruhan, dan menyebabkan matinya biota laut”, katanya. Terkait berapa jarak aman penambangan dari tepi pantai, dikatakan Rusdi hal itu merupakan ranah Dinas Energi dan Pertambangan Babel. “Nah kalau itu ranah ESDM”, kata Rusdi.

Pihak wartawan sebelumnya mendatangi Dinas Energi dan Pertambangan Propinsi Babel pada Senin (8/4). Diluar ditemui Plt. Kepala Dinas Rusbani, dan diminta kembali besok paginya. “Masalah kapal isap, sore ini saya ada kegiatan dengan Sekda. Penjelasannya bisa panjang, silahkan datang lagi besok. Pagi-pagi ya”, kata Rusbani. Selasa wartawan kembali mendatangi Rusbani pagi-pagi. Namun oleh staf kantor dikatakan Rusbani sedang Dinas Luar. “Bapak lagi DL”, kata staf. Demikian juga pejabat berkompeten lain, juga DL. “Yang lain juga pada DL pak”, kata staf lain. (Har)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here