Maju Pilkada Pacitan, Paslon MBOIS Berpotensi Memenangkan Pilkada

0
195
PACITAN_SINARPOS CO.ID
Pertarungan pemilihan kepala daerah (pilkada) di kabupaten Pacitan tahun ini menjadi perbincangan yang hangat di kalangan masyarakat dalam maupun luar Pacitan. Pasalnya, sejak awal tahun 2020 kemarin banyak calon-calon yang bermunculan untuk memperebutkan kursi AE-1 di lingkup kabuapten Pacitan dengan membawa visi-misinya sendiri-sendiri.
Tetapi, tidak ada yang mengira sama sekali pasca turunnya rekom Demokrat, yang menyandingkan Indrata Nur Bayu Aji -Gagarin sebagai cabup/cawabup akan jadi geger publik yang luar biasa.
Tidak tanggung-tanggung, geger publik tidak saja dirasakan warga yang bermukim di Pacitan, tetapi orang-orang Pacitan di luar kota pun ikut-ikutan komen.
Rata-rata mereka komen ke tidak setujuannya atas keputusan Gagarin dan Partai Golkar yang mengambil posisi sebagai cawabup saja.
Sedang untuk geger publik yang bermukim di Pacitan lebih dahsyat lagi, setidaknya ada 8 loyalis yang monting atas keputusan Partai Demokrat yang nekat menyandingkan Aji-Gagarin (Jigar) media menyebutnya.
Loyalis-loyalis tersebut diatas terbagi dalam beberapa kelompok yang selama ini dibangun masing-masing cabup diantaranya:
1.-Loyalis Gagarin,
Gagarin seperti diketahui, adalah pemegang survey tertinggi diantara para cabup yang ada pada saat itu, lembaga survey manapun dan apapun tokoh Golkar dari Ngadirojo tersebut selalu menempati nomor satu, dengan rata-rata berkisar 22%
2.-Loyalis Rony Wahyono,
Semua orang tahu, kader Demokrat ini untuk maju sebagai cabup tidak main-main, seperti diketahui Ronny membentuk tim yang sangat kuat dan militan dengan melakukan berbagai kegiatan sosial selama satu tahun lebih praktis tanpa henti.
Maka tak heran, jika putra kedua mantan Bupati Pacitan H. Suyono ini dalam survey Roda Tiga Konsultan selalu menempati rangking ke dua setelah Gagarin, atau berkisar 16,2%.
3.-Loyalis Prof Sudiono,
Mantan Rektor Universitas Semarang ini loyalisnya tidak bisa dianggap enteng, terutama basic permanennya yaitu pendidik/mantan pendidik yang ada di seluruh wilayah Pacitan.
Pria putra asli Ngadirojo ini, dalam berbagai survey perorangan termasuk cukup tinggi dengan nilai rata-rata 11%
4.-Loyalis Yudhi Sumbogo,
Wakil Bupati Patahana ini dalam kontek dukungan masa, juga tergolong tinggi dan stabil. Dalam survey pria asli Gading Tegalombo ini selalu berada di lima besar yaitu berkisar 11,3%.
5.-Loyalis H. Afgani W,
Pria yang kini masih menjabat Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kota Surabaya ini dalam survey selalu menempel ketat Yudhi Sumbogo atau berkisar 8,1%
6.-Loyalis H. Subroto,
Sekalipun mantan pejabat perhubungan ini tidak semoncer tokoh-tokoh diatas, jika dilihat semua survey yang ada, rata-rata telah menyentuh angka 5,3%, sebuah pencapaian yang lumayan besar, sayang tim H. Subroto sedikit kurang terkordinasi.
7.-Loyalis Sugeng N,
Pria yang kondang sebagai pengacara ini, juga tidak bisa disepelekan, setidaknya putra mantan Bupati Pacitan Sutejo ini punya loyalis yang cukup banyak tapi tertutup, dalam survey memang hanya sekitar 2,5% sekalipun demikian dia pernah menduduki polling tertinggi pada awal-awal wacana pilkada.
8.-Loyalis De Djatno,
Pria yang menekuni dunia pendidikan sebagai dosen ini juga sempat mewarnai pilkada Pacitan sebelum rekom partai Demokrat turun, baleho-baleho cukup banyak dijalan-jalan, sayang akhir-akhir mendekati finish tim dosen asal Ngadirojo ini tidak terdengar lagi kiprahnya, namun survey menunjukkan rata-rata 2,3%
Sedang sisanya yang berkisar 21,3% milik Indrata Nurbayu Aji, Nur Sigit, Tanggono, Winarni dsb. Dengan proyeksi hasil survey dari beberapa Lembaga Survey yang dipakai beberapa cabup diatas maka loyalis-loyalis tersebut mengumpul estimasi suara berkisar 78,7%.
Menurut Joko Subagyo pemerhati politik asal Jakarta, jika jumlah tersebut dikurangi 30 persen suara tetep setia, atau beralih ke paslon Aji Gagarin, maka dipastikan pasangan Mbois akan meraup suara kurang lebih 55% suara dengan catatan jika hari ini dilakukan coblosan.
Namun menurut Brigjen Purn. Aziz Ahmadi, sebaran suara yang eforianya karena kecewa terhadap calon biasanya hanya sesaat, lewat 3 minggu atau maximal satu bulan pelan tapi pasti suara itu akan kembali ke aslinya.
“Itu tidak beda jauh, ketika saya pertama kali mencalonkan diri di pilkada Pacitan sepuluh tahun yang lalu, ketika itu semua seolah kesengsem dengan pangkat Jendral saya, tapi ketika uang bicara maka pemilih akan kembali ke aslinya,” terang Jendral yang akrab dengan media tersebut.
Maka dalam kontek pilkada tahun ini, Aziz Ahmadi hanya bilang, “sopo sing pinter ngramut pemilih sing lagi gonjang-ganjing iki, yo kuwi sing menang,” imbuh Jendral asal Arjosari ini diplomatis.
(Son/yud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here