PDAM Surya Sembada Surabaya, Utamakan Sistem Drainase Kota.

0
128
Surabaya Sinar Pos – Presiden direktur Perusahaan Daerah Air Minum surya Sembada Surabaya, Ir. Mujiaman mengatakan, jadi masalah kebocoran kebocoran itu, negara ini pernah mengambil kebijakan bahwa pembangunan saluran segala macam itu kalau mengganggu utilitas nanti ditanggung oleh kontraktor, pernah begitu, ternyata ini dampaknya besar sekali, akhirnya anggarannya pemkot itu tidak cukup, bolak-balik nabrak kabel, bolak-balik nabrak pipa kan nggak cukup, ahirnya keluarlah Permendagri yang intinya bahwa mengutamakan sistem drainase kota. Dikota ini memang diutamakan, drainasenya akhirnya keluarlah kira-kira bunyinya “sopo wonge duwe utilitas kenek garuk” karo proyeke negoro kdu dandani dewe. Ini sudah berlangsung kira-kira kita menghabiskan uang 30 Miliar untuk mengurus pipa-pipa kita yang kena garuk itu ujarnya di kantor PD AM Surya Sembada (26/3).
Kalau tidak diambil gitu lama mau mulai ini, mikir mikir lagi repot. Ini kesalahan kita semuanya dulu, harusnya memang drai nase itu ada dulu, di dalamnya ada jalur air, jalur pipa, jalur kabel, terus sudah selesai inilah keadaan yang harus kita hadapi,
makanya pagi kita harus sarapan biar kuat menghadapi kenyataan katanya.
Semua pemilik otoritas yang terganggu dengan proyek PU yang berupa sistem jaringan air kota, baik itu limbah, kemudian air bersih, harus begitu, memang harus kita sepakati bersama sama.
Negara telah mengambil kebijakan seperti itu, pemerintah telah mengambil kebijakan seperti itu, kita harus taat. Masalahnya adalah koordinasi saja ucapnya.
Koordinasi ini yang mestinya sebelum dimulai siapkan dulu jalur alternatifnya, baru digali tidak sulit ternyata. Kontraktornya janji senen tak bongkar, ternyata molor lagi kapan, ini gak pernah klop, ya itulah kenyataannya. Jadi koordinasi yang perlu ditingkatkan tuturnya.
Masalah limbah, ini sebenarnya kalau untuk perusahaan dari sisi risiko, lebih rendah karena perusahaan yang membangun usahanya sudah melalui tahapan izin izin, melalui Dinas Lingkungan Hidup dan lain-lain.
Harusnya hanya sedikit yang melanggar, kalau Sisi jumlah, memang perusahaan itu jumlahnya kecil tapi volumenya besar. Tapi kalau itu sudah tertib dari izin sampai pengawasannya itu sudah ada semuanya itu resikonya rendah semuanya.
Yang paling besar adalah rumah tangga yang memang membuat rumah tangga ini tidak ada aturannya, sampeyan WC nya di mana. Jadi risiko terbesar limbah rumah tangga yang belum ada aturannya. Kenyataannya limbah kita itu mulai limbah kamar mandi, limbah toilet, WC, bahasa asingnya slat. Kenyataan slat kita itu dibuang, kalau nggak ke tanah ya ke saluran. Ketanah rembes terus ke saluran, ini yang jadi resiko kita, jadi tantangan kita 10 tahun kedepan kalau hujan campur aduk di sungai pungkasnya. (Nwi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here