MANFAATKAN MUSIM, PETANI SUKSES KEMBANGKAN BUDIDAYA BAWANG MERAH

0
25

BOJONEGORO|SINARPOS.CO.ID– Memanfaatkanmusimhujan, sejumlah petani di Kabupaten Bojonegoro, sukses mengembangkan budidaya bawang merah dengan memanfaatkan lahan basah yang biasa ditanami padi. Pergantian pola tanam ini, ternyata cukup berhasil.
Senin(17-02-2020).

Selain memiliki umur yang lebih pendek dibanding padi, bawang merah yang dibudidayakan, juga tumbuh subur dengan hasil dan keuntungan yang berlipat mencapai jutaan rupiah.

Pergantian pola tanam tersebut, seperti yang dilakukan para petani di Desa Sambongrejo, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro.
Para petani setempat yang biasa bertanam padi, memasuki musim penghujan ini, ramai-ramai beralih membudidayakan bawang merah, karena dinilai lebih menguntungkan.

Bawang merah yang dibudiyakan adalah bawang merah unggul, jenis bauci. Bawang merah jenis ini ternyata mampu tumbuh subur di lahan basah yang biasa ditanami padi.

Selain itu, jenis tanaman holtikultura ini juga memiliki durasi umur yang lebih pendek dibanding tanaman padi yang biasa mereka tanam.
Jika bertanam padi setidaknya membutuhkan waktu hingga 95 sampai 110 hari baru dapat dipanen. Maka bawang merah jenis bauci ini, hanya membutuhkan waktu sekitar 60 hari atau dua bulan saja, maka sudah dapat dipetik atau dipanen.

Selain durasi panen yang lebih pendek, bertanam bawang merah ternyata juga lebih menguntungkan, dengan hasil dan pendapatan yang berlimpah mencapai jutaan rupiah.

Salahsatu petani, Suroto menuturkan, pada musim ini sengaja beralih tanam bawang merah dengan harapan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
“Bawang yang dikembangkan adalah jenis bauci yang ternyata cocok dengan struktur sawah miliknya,” kata Suroto.

Diakuinya, bertanam bawang merah memang membutuhkan perawatan ekstra, serta modal yang lebih besar dibanding padi. “Namun hal itu, dapat tertutupi dengan masa panen yang lebih singkat, serta hasil yang jauh lebih besar dibanding bertanam padi,” imbuhnya.

Menurut Suroto, besaran modal yang dibutuhkan untuk 2 petak lahan berkapasitas 3,8 kwintal benih adalah sebesar 7 juta rupiah. “Jumlah tersebut akan sebanding dengan hasil panen yang didapat, yakni mencapai 120 karung bawang atau jika diuangkan mencapai kisaran Rp 11 dan Rp 16 juta per petak lahan, dengan total keuntungan mencapai Rp 27 juta sekali panen,” kata Suroto.

Namun sayangnya, usaha budidaya bawang merah yang dikembangkan para petani ini, masih bersifat mandiri. Sehingga tata cara perawatan dan pengembangannya masih bersifat manual, termasuk dalam hal pemasaran.

Dibutuhkan peran serta dan perhatian pemerintah agar budidaya bawang merah ini, mampu berkembang lebih maju, dan lebih menguntungkan bagi para petani.

(AND/PR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here