Wali Kota Dan DPRD Didemo Oleh FKMM

0
96

Foto : Pengunjuk rasa membentangkan banner dan poster-poster dalam unjuk rasa terkait proyek amburadul di Kota Mojokerto dalam unjuk rasa yang digekar oleh FKMM. ( 31/1/2020 ).

Mojokerto, Sinar Pos – Di duga akibat proyek drainase Pemerintah Kota Mojokerto (Pemkot Mojokerto) amburadul alias mangkrak, Wali Kota Mojokerto Ika dan DPRD Kota Mojokerto didemo.
Adalah LSM FKMM ( Forum Komunikasi Masyarawah Mojokerto ) menggelar demonstasi (demo) atau unjuk rasa (unras) dengan mengerahkan masa membawa berbagai poster bertuliskan tuntutan yang disampaikan dalam demo tersebut. Poter terbuat dari kertas manila putih ditulis dengan spidol hitam.

Demo digelar di depan pintu gerbang Kantor Pemkot Mojokerto jalan Gajah Mada No.145 Kota Mojojerto, Jum’at, 31 Januari 2020 mulai jan 09.00 Wib. Orasi disampaikan antara lain oleh Agus Tompel, Toha, Rudy sedangkan Topeng (Tofa) sebagai korlap tampak didepan masa agak menyamping mengamati jalannya demo..
Tuntutan pendemo jelas disuarakan oleh para orator tersebut “Kami mendukung Penggunaan Hak Interpelasi para Anggota DPRD Kota Mojokerto terkai proyek amburadul”,, teriak Tompel. “Anggota DPRD yang tidak ikut mendukung interpelasi berarti tidak peduli dengan nasib ralkyat yang menderita akibat proyek drainase mangkrak”, sambung Tompel.
“Wali Kota Mojokerto harus bertanggung jawab terhadap proyek amburadul”, pungkas Tompel.

Lain halnya dengan Tompel, kali ini yang orasi adalah Toha. Dalam orasinya Toha mengatakan : “DPRD Kota harus menindak lanjuti usulan hak interpelasi yang telah diajukan oleh beberapa atanggota Dewan. Jika sampai tidak berlangsung terus kami mengancam akan mengerahkan masa yang lebih besar dalam demo susulan nanti”.

“RDP 1, 2 dan 3 yang dilakukan oleh DPRD dengan mengundang pihak-pihak terkait dengan proyek irigasi yang mangkrak tidak ada artinya. Jadi Interpelasi harus jalan terus”, teriak Rudy dalam orasinya.
Rudi lebih lanjut mengatakan “ Saya minta aparat penegak hukum turun tangan untuk mengusut pidana proyek amburadul tersebut”.

“ Otak dari adanya proyek irigasi yang amburadul harus ditangkap dan diusut tuntas, baik oleh Wali Kota, DPRD maupun Aparat Penegak hukum”, pungkas Rudy.
Membaca press release yang dibagikan oleh penitia demo terbaca tuntutan demo kali ini, yaitu :
1. Gunakan hak interpelasi DPRD, dan tuntaskan segera proyek yang merugikan warga.
2. Penegak hukum ( Polisi dan Kejaksaan ) segera mengusut tuntas proyek amburadul tersebut.
3. Beri kompensasi kepada para korban dari proyek amburadul.
4. Kembalikan pproyek tersebut kepada warga Mojokerto, sebagai proyek padat karya.
5. Libatkan masyarakat dalam pengawasan PL, maupun lelang dari awal sampai akhir.

Sesaat kemudian para wakil pendemo dipanggil masuk ke gedung DPRD Kota Mojokerto, untuk dilakukan mediasi antara Pendemo dengan Pemkot dan DPRD Kota Mojokerto.

Sekitar setengah jam mediasi selesai dan kemudian Toha menyampaikan hasil mediasinya kepada awak media yang isinya antara lain. Perwakilan diterima oleh Ketua DPRD pak Itok dan pak Anang dari Bakesbangpol mewakili Wali Kota. Atas aspirasi demo, Ketua DPRD jawabnya normatif-normatif saja. Tidak ada ketegasan bahwa Interpelasi yang diajukan dipastikan dilanjut. “Kalau sampai interpelasi tidak dilanjut, maka kami akan memobilisasi masa yang lebih besar dan akan melakukan aksi-aksi yang lebih besar”, kata Toha.

Pak Rosyad ketua RT.01 RW.02 Mentikan yang juga ikut dalam perwakilan yang melakukan mediasi. Selesai mediasi menjelaskan bahwa proyek yang amburadul, mangkrak atau mandek sehingga belum selesai sampai sekarang adalah proyek irigasi saluran air. Got atau saluran air diperbaiki dengan pemasangan beton U sepanjang sekitar 500 m kanan kiri dengan anggaran sebesar sekitar Rp. 1.000.000.000,00 ( satu milyar rupiah). Lokasi Proyek di Mentikan Gg 2 belakang SMP Islam Brawijaya.

Masih dari penjelasan pak Rosyad. “ Ndak tahu kenapa tahu-tahu proyek ini mandek belum selesai. Sehingga banyak menimbulkan masalah dan membuat celaka kepada orang. Orang pejalan kaki terperosok, pengendara sepeda motor terperosok, fondasi rumah tergerus air hujan”, jelas Rosyad.

Kata Rosyad : “ Yang penting bagaimana proyek itu selesai dan tidak menimbulkan masalah “.

Unjuk rasa berakhir setelah Toha memberikan penjelasan terhadap hasil mediasi kepada para peserta unjuk rasa. (Ifa).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here