Berawal Dari Tugas Praktik, Siswa SMKN 1 Ngasem Ciptakan Alat Penyiram Tanaman Otomatis

0
300

KEDIRI,SINARPOS.CO.ID – – Kreativtas anak Indonesia memang telah diakui Dunia, banyak sudah prestasi yang telah ditorehlan anak – anak indonesia di kancah internasional, namun tumbuh dari dunia pendidikan yang berkwalitas dan inovatif,

Termasuk tiga pelajar SNKN 1 Ngasem Kab.Kediri ini, Berawal dari tugas praktik, menciptakan alat penyiram tanaman otomatis.Uniknya, alat ini bisa dikontrol jarak jauh melalui aplikasi berbasis obrolan daring telegram.

Alat yang belum diberi nama ini menggunakan sensor kelembaban yang dapat dikontrol melalui telegram.Sehingga, dari jarak jauh, pemilik tanaman bisa mengetahui kapan tanamannya perlu disiram.

Jika kelembapan di bawah 20 persen, pompa akan menyala dan alat otomatis menyiram.
Alat akan berhenti menyiram hingga kelembaban tanah mencapai angka 40 persen.“Angka tersebut bisa dilihat di layar LCD yang ada di alat kontrol, kalau jarak jauh bisa dicek melalui telegram,” ujar Muhammad Fatkhur, salah satu siswa pembuat alat ini.

Selain untuk kebutuhan taman rumah tangga, alat penyiram otomatis juga dapat digunakan dalam skala besar.“Saat ini, luas lahan yang bisa terbaca sensor terbatas, hanya berukuran 1×1 meter. Untuk skala besar, sensor masih akan terus dikembangkan,” imbuh Fatkhur.

Alat ini diciptakan oleh tiga siswa kelas XII TKJ 2 SMKN 1 Ngasem.Mochammad Fatkhur, Hadi Dwi Setiawan, dan Moh. Azis Saputro. Mereka berbagi tugas dalam proyek ini.

“Ada yang mengerjakan pemrograman dan coding, komponen, dan simulasi,” ujar Fatkhur.
Hadi Dwi Setiawan menjelaskan, beberapa komponen yang dipakai pada alat ini di antara ESP 8266 sebagai otak, yaitu mikrokontroller yang sudah bisa terkoneksi dengan internet.
Sementara output data menggunakan LCD, dan input menggunakan soil mosture, yaitu sensor yang ditancapkan ke tanah untuk mengukur kelembapan tanah.

Sebagai siswa SMK, kendala terbesar yang mereka alami ialah saat pemrograman dan pencetakan PCB.“Kadang ada kres antara kelembapan dengan telegram,” tutur Azis.

Printed circuit board (PCB) atau papan sirkuit cetak yaitu jalur kelistrikan dari robot agar bisa mengalirkan air ke tanaman. Namun, berkat kegigihan mereka, alat ini dapar dituntaskan dalam waktu 40 hari.

“Kalau bahannya sudah ada ya bisa lebih cepat. Tapi karena bahannya belum siap, jadi total kami butuh waktu 40 hari,” ujar Fatkhur yang hobi otak-atik elektro ini.

Ari Eka Prasetianto, guru pengajar mata pelajaran robotik yang memberikan tugas ini melihat karya ketiga siswanya ini sangat inovatif.
Karya ini lantas diajukan untuk ikut lomba Teknologi Tepat Guna tingkat kabupaten pada akhir 2019 lalu.

Lomba yang diikuti kalangan umum tersebut diikuti 35 peserta.Ada empat kelompok siswa SMK, mahasiswa, bahkan industry rumahan.Mereka berhasil meraih urutan ke-5 dari seluruh peserta.

“Awalnya tugas, kami membebaskan siswa untum berinovasi. Output yang dihasilkan adalah tugas yang bermanfaat,” ujar Ari Eka, guru mata pelajaran robotik.

Ditanya soal pengembangan, Ari mengaku alat ini masih tergantung akses internet dan listrik.
“Pengembangan ke depan bisa menggunakan solar cell, sehingga kalau ada listrik padam alat ini bisa tetap berfungsi,” imbuh Ari.

Alat yang baru dibuat untuk simulasi ini tak memakan daya besar, hanya sekira 12 volt. Untuk ukuran real, butuh daya sekira 30 volt.
“Untuk skala besar tinggal nambah saluran air. Kompresor yang masuk ke air cukup satu, nanti tinggal mecah saluran dan ukuran pipa kecil jadi debit air yang keluar debitnya kecil,” jelas Ari.
Ari berharap, produk buatan siswanya bisa dikomersilkan (AD/KM/LH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here