Media Pembelajaran Inovatif Berbasis  Multimedia 

0
77

Untuk Menanggulangi Krisis Toleransi di Era Milenial

Lamongan, Sinar Pos –  Pentingnya pembelajaran inovatif di era milenial saat ini menuntut peningkatan kemampuan guru menggunakan perangkat multimedia dalam pembelajaran. Lebih lanjut, guru dituntut menyampaikan materi yang bermuatan nilai-nilai toleransi pada masyarakat Indonesia yang multikultur. Hal itu perlu didukung visualisasi berupa film-film berbasis multimedia yang berangkat dari gambaran realitas sehari-hari siswa. Toleransi dalam keragaman ke-Indonesiaan merupakan penekanan yang harus mengakar pada anak didik.

Peristiwa bom bunuh diri di Surabaya pada 2018 yang melibatkan satu keluarga termasuk anak-anak dalam aksi terorisme perlu mendapat perhatian. Anak-anak yang terlibat aksi teror tersebut nota bene merupakan siswa sekolah berusia sekitar 8-18 tahun.

Temuan yang lebih memprihatinkan lagi adalah intoleransi serta bibit-bibit radikalisme sudah masuk dan berkembang di sekolah-sekolah di Indonesia yang menyasar kaum milenial. Hasil penelitian terbaru dari  PPIM UIN Jakarta (2017), dilakukan terhadap siswa/mahasiswa dan guru/dosen dari 34 provinsi di Indonesia. Di antaranya, hasilnya yaitu sebanyak 34,3 persen responden memiliki opini intoleransi kepada kelompok agama lain selain Islam. Kemudian, sebanyak 48,95 persen responden siswa/mahasiswa merasa pendidikan agama mempengaruhi mereka untuk tidak bergaul dengan pemeluk agama lain. Yang lebih mengagetkan lagi 58,5 persen responden mahasiswa/siswa memiliki pandangan keagamaan dengan opini yang radikal. Arus radikalisme menjadi tantangan baru bagi pemerintah dan masyarakat secara umum serta dunia pendidikan.

Terkait bidang pendidikan, guru merupakan ujung tombak pendidikan nasional yang memiliki peran strategis dalam menanggulangi krisis toleransi pada siswa. Di samping orang tua, guru juga menjadi tumpuan dalam pengembangan nasionalisme, patriotisme, dan karakter siswa melalui nilai-nilai bela negara.

Menyikapi hal tersebut, pada 18 Juli 2019, SMP Muhammadiyah 14 dan SMA Muhammadiyah 6 yang berada di komplek pondok pesantren Karangasem Paciran Kabupaten Lamongan menyelenggarakan pelatihan pengembangan media pembelajaran inovatif berbasis multimedia kepada sejumlah guru-guru di kedua sekolah itu. Kedua sekolah yang bekerja sama dengan tim Pengabdian kepada Masyarakat dari UPN Veteran Jatim tersebut, mengembangkan materi pembelajaran yang bertujuan untuk menangulangi krisis toleransi. Tim dari UPN Veteran Jatim yang beranggotakan Drs. H. Zawawi,S.E.,MM.,M.Pd., Aphief Tri Artanto, ST, M.Sn., dan Dr. Endang Sholihatin, S.Pd., M.Pd., serta beberapa dosen dan mahasiswa UPN Veteran Jatim lainnya, melakukan aktivitas membuat video berdasarkan skenario materi pembelajaran di lingkungan pondok pesantren. Selanjutnya, video/ film tersebut dikemas menjadi bahan ajar yang bermuatan nila-nilai toleransi.

Adapun manfaat media inovatif berbasis multimedia dalam pembelajaran secara substansi yaitu meningkatkan  interaksi guru dan siswa, dengan tujuan membantu siswa belajar secara optimal. Secara spesifik manfaat media pembelajaran adalah sebagai berikut (Kemp dan Dayton, 1985). 1) Penyampaian materi pembelajaran kreatif dan inovatif. 2) Proses pembelajaran menjadi lebih menarik dengan audio visual (multimedia). 3) Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, tidak hanya satu arah. 4) Jumlah waktu belajar-mengajar lebih efektif dan efisien. 5) Kualitas belajar siswa dalam meyerap materi secara utuh dan mendalam dapat ditingkatkan. 6) Proses pembelajaran dapat terjadi di mana saja dan kapan saja dengan pemanfaatan media digital. 7) Sikap positif siswa terhadap proses belajar dapat ditingkatkan. 8) Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif dan produktif.
Menurut Dr. Endang Sholihatin, S.Pd., M.Pd., dosen UPN Veteran Jatim yang mengawaki kegiatan ini, target capaian program pengabdian kepada masyarakat di kedua sekolah tersebut adalah mitra guru mampu untuk: 1) membuat media pembelajaran berbasis multimedia, 2) memproduksi media pembelajaran berbasis multimedia, 3) mencari dan mengembangkan ide serta visualisasi dalam multimedia, 4) menjadi agen yang dapat menyebarkan kemampuannya dalam pengembangan media pembelajaran berbasis multimedia. Dengan demikian, para guru dapat memanfaatkan kemajuan teknologi dalam kegiatan belajar-mengajar sehari-hari untuk menyampaikan materi secara utuh dan mendalam kepada siswa secara efektif.(Pam )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here