Dewan Ketahanan Nasional Kunjungi Sidoarjo

0
38

Sidoarjo,- Sinar Pos

Dalam rangka sosialisasi mitigasi bencana Tim Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional lakukan kunjungan ke Kabupaten Sidoarjo, kemarin, Rabu, (10/7). Tim yang dipimpin oleh Marsekal Pertama TNI Bayu Rastono SH,MM diterima langsung oleh Bupati Sidoarjo H. Saiful Ilah SH,M.Hum di pendopo Delta Wibawa.Selain itu kunjungan tersebut sekaligus digunakan untuk mengumpulkan informasi dan data sebagai masukan dalam perumusan kebijakan nasional terkait mitigasi bencana di Propinsi Jawa Timur.

Marsekal Pertama TNI Bayu Rastono menyampaikan kunjungannya ke Sidoarjo untuk mencari informasi sebanyak mungkin terkait bencana yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo. Informasi tersebit akan menjadi data primer bagi Dewan Ketahanan Nasional. Dari data tersebut akan di gunakan untuk menyusun kebijakan maupun saran terkait mitigasi bencana kepada presiden.

Bupati Sidoarjo H. Saiful Ilah mengatakan Kabupaten Sidoarjo termasuk kabupaten di Jawa Timur beresiko tinggi terhadap bencana. Hal tersebut berdasarkan indeks bencana Indonesia pada tahun 2013 lalu. Data dan informasi bencana Indonesia yang dipadu data dari BPBD Sidoarjo telah menunjukkan jenis bencana yang telah terjadi di Kabupaten Sidoarjo. Pada rentang waktu tahun 2000 sampai 2018, Kabupaten Sidoarjo telah mengalami empat jenis bencana. Yakni bencana banjir, angin puting beliung, kebakaran dan semburan lumpur Lapindo.

Masih dikatakan Bupati Sidoarjo H. Saiful Ilah bahwa Pemkab Sidoarjo telah menentukan program dan kegiatan dalam upaya penanggulangan bencana. Program dan kegiatan tersebut dimuat dalam dokumen perencanaan pemerintah daerah sekaligus digabungkan dalam dokumen perencanaan perangkat daerah. Dokumen yang tersusun dalam bentuk rencana strategis dan rencana kerja.

“Dalam upaya penanggulangan bencana, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo telah menentukan program dan kegiatan dimuat dalam dokumen perencanaan pemerintah daerah dan digabungkan dalam dokumen perencanaan perangkat daerah,”ujarnya.
Sementara itu Peneliti bencana dari Pusat Studi Kebumian, Bencana dan Perubahan Iklim (PSKBPI) LPPM ITS Surabaya Prof. Amien Widodo yang ikut dalam rombongan mengatakan proses kegempaan itu sendiri tidak secara langsung. Pecahnya lempengan bumi terjadi tidak bersamaan. Pecahnya terjadi satu persatu dalam waktu cukup lama, hal tersebut yang menunjukkan gempa awal.

Menurutnya Jawa Timur berpotensi gempa. Titiknya di Selatan pantai Jawa Timur dan ditengah pulau Jawa. Dari penelitian yang dilakukan, potensi gempa di tengah Jawa Timur disebabkan sesar aktif. Sesar sendiri adalah retakan yang sudah bergeser.

“Sesar aktif seperti ini, ada dorongan kemudian terjadi retak, karena dorongan tersebut retak itu bergeser,”ucapnya. (Awi/Dl)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here