Suasana Lebaran Ketupat di Wisata Sor Pring Ngadi

0
42

KEDIRI,SINARPOS.CO ID – Lebaran Ketupat diperingati dengan cara beda oleh warga Desa Ngadi Mojo. Dimulai sekitar pukul 8 pagi hingga selesai, yaitu diadakannya kenduri, kirab dan makan ketupat gratis bersama warga dan pengunjung di wisata sor pring Desa Ngadi. Sekitar 4 ribu ketupat telah dipersiapkan untuk dikirab oleh warga.

“Acara ini sebelumnya sudah kami adakan sebanyak tiga kali dan hari ini yang keempat kalinya. Kalau dulu kami melaksanakan kirabnya malam hari. Sekarang kami berinisiatif melaksanakannya pagi hari,” terang Basuki Eko Margono, Kades Ngadi (12/6).

Start dari balai desa menuju tempat wisata sor pring warga sangat antusias ikut berjalan kaki sejauh hampir 2 Km. Susunan ketupat yang dibentuk menyerupai tumpeng tersebut pun diarak oleh Kepala Desa Ngadi beserta perangkat yang turut berjalan kaki dalam kirab tersebut.

Momen tersebut menjadi daya tarik tersediri bagi warga dan pengunjung. Dengan alat yang mereka miliki seperti kamera dan HP, tak henti-hentinya mengabadikan kegiatan tersebut.

Sesampainya di lokasi wisata sor pring, tumpeng ketupat itu pun langsung ditaruh di depan panggung. Ribuan pengunjung tempat wisata yang telah menunggu langsung mengambil gambar tumpeng ketupat tersebut.

Sesuai aba-aba dari panitia dan Kepala Desa setelah berdoa, ketupat kemudian diperebutkan oleh warga dan pengunjung. Walaupun berebut tapi tetap dengan pengawalan dan pengawasan dari pihak keamanan dalam hal ini Babinsa dan Babinkamtibmas Desa Ngadi dan akhirnya berjalan lancar.

Berdasarkan keterangan Kades, ribuan ketupat tersebut merupakan patungan dan sedekah dari warganya. Setiap rumah mengumpulkan dua buah ketupat, tapi mereka tidak hanya mengumpulkan 2 ketupat ada yang lebih dari itu,” jelasnya.

“Tak hanya ketupat saja lengkap dengan sayur lodeh yang menambah nikmat jika disantap,” imbuhnya.

Di bawah rindangnya pohon bambu dan musik patrol yang menjadi andalan wisata desanya, ketupat tersebut dilahap bersama-sama yang menambah suasana keakraban, harmoni dan meningkatkan silaturahmi di bulan yang fitri ini.

Ditambahkan oleh Basuki, acara ini sendiri tak lepas dari tradisi puasa yang dilaksanakan selama seminggu pada bulan Syawal. Oleh karena itu, acara tersebut digelar setiap H+8 lebaran.

“Tradisi seperti ini akan tetap kita lestarikan dan setiap tahun akan kami laksanakan, selain untuk acara keagamaan juga sebagai sarana promosi memperkenalkan potensi desa Ngadi kepada masyarakat luas,” harapnya.

“Dengan begitu pahala didapat, sekaligus perekonomian masyarakat juga pasti ikut terangkat serta jajan ndeso yang menjadi ciri khas semakin laris terjual,” tegasnya. (AD/Kom/Leh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here