HUT Ke-47, REI Gelar Pameran Properti Terlengkap

0
40

SURABAYA, SINAR POS – Real Estate Indonesia (REI), Dalam Rangka Memperingati Hari Ulang Tahunnya Yang Ke-47, Menggelar Pameran Properti Terlengkap dan Terpercaya di Gedung Jatim Xpo Jalan Jend. A. Yani Surabaya mulai tanggal 3 hingga 7 April 2019.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah REI Jawa Timur (Jatim) , Danny Wahid mengatakan, Pameran rangkaian daripada HUT REI kemarin tanggal 24, 25, 26 lanjut ke Funbike di Madura kemarin, kita melepas 5.600 peserta , itu acara dari komisariat Madura, terus itu kita lanjut ke Pameran ini dari tanggal 3 sampai tanggal 7, ini sebuah rangkaian HUT, karena REI jatim ini tetap optimis, kita tidak menunggu pemilu, kita tetap berusaha membangkitkan perekonomian ujarnya.


Expo ini Rumah untuk Milenial, karena pasar milenial ini sangat besar, satu besar, dua perbankan juga lebih senang, karena umurnya masih muda, asuransinya murah, terus yang terpenting adalah bagaimana merubah polahidup milenial yang sekarang ketika dia sudah bekerja punya gaji, membeli gadget, sepeda motor dan mobil, beralih kepada membeli rumah, karena ini cita-cita yang bagus, karena mereka tidak pernah berfikir itu, mereka berfikir setelah mereka menikah baru dia kepikir punya rumah, padahal ketika dia sudah menikah berarti dia 5 tahun dia jalani kerja atau 4 tahun disana rusak gaya hidupnya, akan gagal mempunyai rumah atau kalau dia mau jadi pengusaha dia tidak akan, tidak bisa, karena ketika di checking BI call nya sudah banyak, call nya sudah call 5, tertinggi, karena gaya hidup, karena kartu kredit itu bunganya 3,8 kira-kira 3,6 persen setahun, karena rumah ini sekarang subsidi 5 persen setahun, barulah yang paling KPR komersil, rata-rata bunganya 7 – 8 persen, per tahunnya 38 persen, itu kejepit disitu mereka akan rusak namanya, mereka pasti, mereka pasti macet, itu aja. Katanya.

“Menurut Danny, milenial ini tujuannya , bagaimana milemial ini punya rumah”.
Tahun lalu masih partial di daerah, kayak jember, jember kita sudah mulai, nanti kita akan merubah pola pikir milenial, di Pasuruan, Pasuruan itu orangnya tidak mau beli rumah di perumahan, mereka lebih cendrung tinggal di dalam kampung, didalam kampung itu ada plus minusnya, satu kebersamaannya iya, tapi ketika kampung itu masuk kumpulan orang yang tidak baik, maka 80 persen milenial tertentu polanya akan ikuti itu, itu yang paling berbahaya, daripada hidup.

perumahan juga disini enggak juga perumahan elit, kita bicara, itu tidak pernah individual, tetap mereka bersosialisasi, ada kegiatan RT, RW, menurut saya akan baik, karena manusia itu ketika dia tumbuh, maka 80 persen yang bentuk lingkungan, ucapnya.

Kita disini ada total 58 stand, pasarnya milenial, semuanya murah, asuransi murah, cicilan bisa 0 persen, jangka waktu bisa 30 tahun, karena mereka-mereka ini sangat potensial untuk meraih KPR, jadi ketika dia sudah punya rumah, kalaupun dia beli mobil gak ada masalah, karena dia tidak akan cacat di kolektidiwitas, jadi ketika namanya di pasang gajian pertama dia memulai kredit ini, kan kreditnya di KPR, bukan di kartu kredit , gitu aja.

Ditambahkan Danny, KPR 10 tahun, 15 tahun, selama saya perhatikan, tidak pernah orang melunasi rumah 20 tahun, karena rata-rata 7 tahun mereka sudah lunas, karena mereka saya lihat, masyarakat jatim ini sangat dinamis, dan tidak suka juga berhutang, jadi lunas di tingkat 7 sampai 8 tahun itu insyaalloh itu sudah lunas.

Jangan menghitung KPR itu cicilan 3 juta dikalikan 15 tahun sama dengan satu miliar, tidak, dia menghitung memang segitu, tetapi dia menyelesaikan dalam 8 tahun maka 30 kurang 8 itu bunganya tidak kena, akan hilang, dia bunganya tidak flat, bunga efektif dan anuitas, jadi BPR pola anuitas, Bank lain memakai bunga efektif, jadi menurut saya sangat bagus banget buat putaran perbankan, secara asset, karena BPR ini jangkanya panjang, asset bank itu ditentukan, laba, hutang, pinjaman itu akan menjadi sebuah asset yang sangat besar. Itu yang saya bilang ketika Properti tumbuh, ekonomi tumbuh, konsumsi tumbuh. Karena itu tidak bisa, makanya saya bilang, Pemerintah sebenarnya duduk manis, regulasi dipermudah, perijinan dipercepat OSS dilakukan dengan cara fundamental, tidak seperti sekarang, belum konkrit sekali, ke bawahnya masih terkendala, diselesaikan, saya kira perteumbuhan ekonomi jatim agregat 6 persen, saya tidak takabur itu aja tutupnya. (Nwi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here