Kejaksaan Agung Perioritaskan Perlindungan Satwa Liar

0
48

SURABAYA, SINAR POS — Kejaksaan Agung Republik Indonesia Mengadakan Training selama tiga hari kepada para Jaksanya untuk menangani Satwa Liar di Hotel Grand Dafam Surabaya mulai Hari Selasa hinnga Kamis (12 hingga 14 Maret 2019).

Ketua Satuan Tugas Sumber Daya Alam Lintas Negara pada Jaksa Agung Muda Tingkat Pidana Umum, Ricardo Sitinjak, mengatakan, kita melakukan Iknows training saya tunjukkan jaksa agung muda pada bidang ini, karena mengingat keterbatasan waktu dan pembiayaan untuk semua tenaga yang di alokasikan untuk pendidikan satwa liar, karena ada surat edaran jampidum bahwa penanganan perkara satwa liar diperioritaskan kepada orang/jaksa yang mempunyai sertifikat, didalam kesempatan ini kami atas petunjuk Pak Jampidum melakukan Iknows training dan beliau yang membuka kegiatan itu, jadi artinya adanya pencerahan dengan fakta-fakta dilapangan jadi dalam melakukan penuntutan itu mereka sudah lebih mengerti dan memahami dampak ekologis daripada yang hilang dari habitatnya yang akan mengganggu ekosistem daripada hutan dan juga peredaran tumbuhan dan satwanya.ujarnya.

Bapak Jaksa Agung maupun Bapak kapolri sudah menekankan perlunya pentingnya prioritas dan penanganan-penanganan satwa liar, Jaksa agung juga mengatakan agar terhadap pelaku kejahatan, memelihara , memperdagangkan, membunuh satwa liar yang dilindungi agar di tuntut tinggi untuk mendapat efek jera.
Kalau kejahatan itu, di jatim dominan adalah perkara burung, yang saya lihat sedang di tangani didaerah jember, barang buktinya sangan banyak sekali, sangat besar sekali, kalau untuk peredaran ini, kejahatan ini karena ada peredaran juga, ada perdagangan via online, tapi Alhamdulillah dengan regulasi yang dilakukan pimpinan dan begitu kepentingan kita untuk menyelamatkan satwa tuntutan yang tinggi membuat efek jera, dan itu mulai berkurang.

Kejahatan itu terjadi ya seperti di daerah jabar, di Kalimantan, Pontianak, anak orang hutan, pemelihara, dan lagi ngetren yang terjadi di Aceh, adanya penembakan orang hutan, di dalam tubuhnya ada 74 peluru, kemudian akibat stress anaknya orang hutan itu meninggal dunia.

Undang undang satwa liar UU nomor 5 tahun 1990, jadi, dengan ancaman hukuman pidana badannya 5 tahun dan denda 100 juta maksimal. Target kita tetap, yaitu melakukan, pertama pembekalan kepada para jaksa, untuk lebih mengetahui lebih mendalam tentang penanganan perkara satwa liar dan harapan kita tetap menurun kejahatan itu agar perlindungan terhadap satwa itu tetap terjaga, karena itu merupakan matarantai kehidupan hutan dan satwa, juga pencipta daripada oksigen kita sendiri, kalau semua nanti akan punah di frostasi hutan, kegundulan hutan, dan kepunahan satwa, itu akan berdampak kepada kita, dan kita akan mewariskan anak cucu keterbatasan tidak mengetahui satwa jenis satwa yang hidup didunianya tidak ada, kemudian kita bisa -bisa kekurangan oksigen kita, karena itu menciptakan oksigen tutur Ricardo Sitinjak. (Nwi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here