Di Duga Berkedok Tempat Pitrad, Sediakan Layanan Plus

0
83

Sidoarjo, Sinar Pos

Lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara itu, pada pertengahan 2014, resmi ditutup oleh Pemerintah Kota Surabaya. Hal itu dilakukan pemerintah untuk meminimalisir praktek prostitusi yang terjadi di kota terbesar kedua di Indonesia ini.

Namun sayangnya, upaya positif pemerintah ini belum didukung sepenuhnya oleh kalangan tertentu, yaitu para pengusaha bisnis lendir. Pasca ditutupnya Dolly, nuansa serupa yang ada dilokalisasi itu, kini mulai marak bermunculan.

Berkedok Panti Pijat Tradisional (Pitrad) yang terletak di daerah Juanda komplek Ruko pasar Sedati, Sidoarjo,

Ruangan di dalam dikelilingi wanita-wanita muda, pemandangan yang sama persis seperti di lokalisasi Dolly bakal kita jumpai saat kita menginjakkan kaki di Pitrad ini.

Bedanya, dulu di Dolly, wanita-wanita dalam ‘akuarium’ itu mengenakan busana seksi dengan berbagai model dan warna, namun kalau di pitrad ini, wanita-wanita muda yang ‘dipajang’ itu didandani dengan pakaian mini sexy, namun, tetap sama menggodanya.

Pakaian yang dikenakan seakan sengaja dibuat sedikit nakal guna menarik perhatian pria hidung belang. Belahan dada si pemakai, tak jarang dibiarkan sedikit menyembul keluar, agar mata yang memandangnya tetap kerasan dan fokus terjaga di titik tersebut.

Plakat didepan Ruko menamakan sebagai tempat pijat, DiDuga dalam prakteknya juga melakukan bisnis esek-esek, pria hidung belang bisa melampiaskan birahi ditempat ini bersama para terapis-terapis sesuai seleranya.

Pingin Plus-Plus Tak Mahal, Ingin bercinta dengan para terapis berseragam ini, tak perlu merogoh kocek terlalu dalam, cukup Rp 350 ribu bisa ‘indehoi’ didalam bilik kamar yang disediakan oleh pengelolah.

Seperti yang diutarakan berinisial Sis, satu jam yang lalu. “Kalau mau pijet saja cukup bayar Rp 150 ribu, tapi kalau mau esek-esek nambah lagi Rp 350 ribu. Murah kok, mau yang mana, yang ini atau yang itu,”  sambil menunjuk beberapa rekannya yang ada didalam ruangan.

Padahal, sesuai Peraturan daerah tentang Izin Mendirikan Bangunan, sudah jelas tempat ini menyalahi fungsinya serta melanggar Perda  nomor 1 tahun 2014 tentang Perdagangan Manusia (Human Trafficking).

Tak hanya itu, pelaku praktek ini pun juga bisa dijerat pasal 296 KUHP tentang memudahkan perbuatan cabul orang lain dengan ancaman hukuman satu tahun empat bulan penjara. (Misrawi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here