Sosialisasi Implementasi Program Mandatori Biodiesel 20 persen (B20) di Kingkungan TNI

0
60

Surabaya, Sinar Pos – 21 November 2018. Direktur Bioenergi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Direktorat energi Baru, Terbarukan Dan Konservasi Energi, Andriah Febi Misna mengatakan Presiden sudah mengamanahkan untuk B20 bisa menerapkan di seluruh sektor meskipun srbenarnya B20 itu sudah kita terapkan sejak 2016dan terbatas di sektor PSU dan pembangkit listrik PLN kususnya PLTG. Tapi kemudian karena terjadi, kita sama sama tahu neraca perdagangan kita kurang bagus kususnya SKR migas B20 ini kita bisa berkontribusi untuk mengurangi impor. karena impor minyak biayanya tinggi. Kalau kita menggunakan B20 artinua impor solar itu kan bisa 20 persen dikurangi dengan adanya biodiesel tersebut. tapi kemudian pemerintah menyadari tidak semua sektor bisa menerapkan langsung. Tapi ada 3 sektor, mereka tidak bisa menerapkan langsung salahsatunya dari kemhan, ini ada alutsistanya. Kemudian untuk Freeport adalah daerah yang highland karena disana temperaturnya minus dan cuacanya dingin. kita perlu kajian kemudian yang ke tiga itu adalah pembangkit gas turbin PLN, itu juga bahan bakar B20 ini , belum tempat tinggal dengan engine engine nya sehingga 3 sektor ini kita berikan releksasi dan bisa menggunakan B0 tetapi sejalan dengan itu kita melakukan tinjauan teknis. Kusus Lutsista ini kita sudah melakukan beberapa rapat pertemuan dalam rangka melihat sejauh mana B20 bisa diterapkan di alutsista. Untuk itulah kita melakukan sosialisasi untuk menyamakan persepsi para stake holder terutama di kemhan terkait bahan bakar B20, seperti apa kemudian kondisi enginenya seperti apa, kemudian kita melakukan pre audit di alutsista itu. sebenarnya dimana sih alutsista kita gunakan B20 ujarnya.

Dari preaudit itu nantinya kalau kita perlu hasil pre audit itu melakukan uji fungsi maka kita akan melanjutkan uji fungsi, karena kita sebelum melakukan B20 di otomotif ini kita melakukan uji teknis kita melakukan sambil jalan katanya.

Kalau yang di otomotif itu kita lakukan di tahun 2014 sebelum kita lakukan di tahun 2016. Jadi 2014 kita lakukan uji beberapa manufaktur mengerahkan kendaraannya seperti HINO, Chefrolet, Ford, kemudian ada beberapa manufaktur lainnya. Jadi kita menggunakan B20 di kendaraan tersebut kemudian kita melakukan Road Test sejauh 40.000 km, kemudian kita mengkondisikan jalannya juga segala jenis jalan menguji ketahanan mesinnya. ternyata tidak ada permasalahan kelotor maupun injektor, semua berjalan dengan baik. Makanya kita form bahwa B20 itu tepat untuk diterapkan di otomotif. Ahirnya kita kan sudah menerapkan di tahun 2016.

Untuk kereta api kita sudah melakukan uji teknis. untuk alutsista ini kita memang belum, salah satu usaha sejauh manasih B20 itu kita terapkan di alutsista ini tuturnya.(Nwi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here