Banyak Belum Faham Islam Nusantara , Begini Menurut Wakil Bupati

0
113

Jember, Sinar Pos

Akhir akhir ini banyak muncul organisasi kemasyarakatan , organisasi Islam dan sebagainya. termasuk Islam Nusantara.

Wakil Bupati Jember Drs. KH. Abdul Muqit Arief menyebut masih ada beberapa pihak yang salah paham mengartikan dengan Islam Nusantara, yang akhir akhir ini sedang gencar bergulir dan menjadi perbincangan di tengah masyarakat.

“Padahal, Islam Nusantara itulah yang sangat cocok untuk keindonesiaan kita,” tutur Wabup Muqit saat menghadiri Rapat Terbuka Senat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, Senin 19/11/18.

Rapat Terbuka tersebut digelar di Gedung Kuliah Terpadu lantai tiga untuk pengukuhan Profesor Prof. Dr. M. Noor Harisuddin, M. Fil. I. dalam bidang Ilmu Usul Fiqh.

Wabup Muqit menjelaskan, memahami Islam Nusantara adalah bagaimana memahami Islam yang selalu bersinergi dan selalu akomodatif dengan nilai-nilai budaya yang serba berbhineka tunggal Ika.

Pemahaman seperti itu, lanjut pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Silo ini, menjadi sesuatu yang sangat penting. Titik akhir pemahaman ini dalam rangka mempertahankan persatuan dan kesatuan NKRI.

Prof. Dr. M. Noor Harisuddin, M. Fil. I. menjadi profesor ketujuh yang dikukuhkan civitas akademi IAIN Jember. Dalam pengukuhan itu Prof. Dr. M. Noor Harisuddin, M. Fil. I. menyampaikan orasi ilmiahnya dengan judul Fiqih Nusantara.

Ia menjelaskan bahwa Fiqih Nusantara menjadi sesuatu yang bisa mengharmoniskan dan menyelaraskan agama, negara, dan adat.

“Dengan menjadi bagian dalam Fiqih Nusantara tersebut, kita bisa menjadi seorang Indonesia. seorang muslim tidak ada pertentangan antara Jawa, Indonesia, dan muslim. Ketiganya bisa diselaraskan dengan Islam Nusantara dan Fiqih Nusantara,” imbuhnya.

Kontribusi Fiqih Nusantara pada penguatan NKRI, lanjutnya, salah satunya yaitu bentuk penguatan terhadap konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia yang serba majemuk.

Penguatan tersebut nampak saat Nahdlatul ulama pada tahun 1936 menyebutkan Darul Islami atau negara atau wilayah Islam, bukan negara khilafah.

Rektor IAIN Jember, Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E M.M, menyampaikan, kita sedang berada di posisi gerakan-gerakan yang melanggar ideologi bangsa, yang dapat menyebabkan hancurnya NKRI dengan mengatasnamakan agama. “Sehinga fiqih nusantara dapat digunakan dalam menguatkan hukum di Indonesia,” terang Babun.

Babun berharap Prof. Dr. M. Noor Harisuddin, M. Fil. I. melalui fiqih nusantara, dapat menjadikan generasi yang mampu menjaga nilai-nilai bangsa, ideologi Pancasila, dan undang-undang dasar 1945.” Pungkasnya.(Bas/Rol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here