LSI Ngawi Kritik Hasil Finishing Tugu Gading Gajah Kartonyono

0
317

NGAWI SINAR POS– Setelah digelarnya dengar pendapat yang melibatkan Dinas dan institusi terkait seperti DPUPR dengan PT Asimuru Mitra Mulya di Komisi IV DPRD Ngawi, (13/11/2018) lalu, beberpapa fihak yang mewakili masyarakat masih mempertanyakan berbagai hal terkait penyerapan anggaran Pemkab. Ngawi.

 

Salah satunya , Agus Fathoni alias Atong koordinator Langgar Sawo Ijo (LSI) Ngawi pun masih tertarik’membahas anggaran Rp 3,1 miliar yang digelontorkan Pemkab Ngawi.

 

“Masyarakat Ngawi harus bersikap meskipun mereka-mereka sudah dipanggil dewan untuk dimintai keterangan. Justru dewan harus bener-bener bersikap jangan mudah percaya,” terang Atong, Rabu, (14/11/2018).

 

Yang perlu disikapi adalah anggaran mencapai 58 persen atau Rp 1,65 miliar (satu miliar enam ratus lima puluh juta) terserap pada pekerjaan pelebaran jalan, pengaspalan, drainase, pengunduran lampu traffic light (lampu merah) dan lain-lain.

 

“Makanya dalam kroscek nanti dewan (Komisi IV DPRD Ngawi-red) harus obyektif dan betul-betul memplototi benar tidak anggaran 58 persen itu tersedot,” ulasnya.

 

Menurutnya, selain anggaran terlalu besar ia juga tidak habis pikir soal pekerjaan finishing terhadap gading gajah yang sangat kurang rapi. Atong sangat menyayangkan pekerjaan Tugu Kartonyono dibawah rekanan PT Asimuru Mitra Mulya yang terkesan kurang pas.

 

Padahal keberadaan tugu yang difungsikan sebagai satu monumental tersebut berada ditengah akses jalan nasional. Terlebih kehadiran gading gajah sebagai satu ikon akan keberadaan daerah Ngawi agar dikenal publik. Maka dari itu jelasnya, DPUPR Ngawi harus mencermati pekerjaan akhir sesuai fungsinya. Terlebih kehadiran konsultan pengawas juga harus bertanggungjawab.

 

“Jangan sampai terjadi penyerahan sesuai hasil PHO kalau belum sesuai harapan masyarakat. Paling tidak hasil akhirnya lebih rapi. Jika tidak diperhatikan oleh dewan maupun dinas terkait (DPUPR-red) kita selaku masyarakat punya saluran untuk menindaklanjuti keberadaan Tugu Kartonyono itu,” beber Atong.

 

Ujar Atong, dalam hearing yang digelar kemarin itu pihak rekanan (PT Asimuru Mitra Mulya-red) seharusnya membawa semua dokumen yang dibutuhkan dewan. Sehingga sesuai konteknya jangan menimbulkan asumsi ditengah masyarakat apalagi pro kontra dalam penyikapan. Apalagi sebelum dilakukan kroscek dewan terlalu dini menyebut anggaran Tugu Kartonyono sudah realistis.

 

Seperti diketahui hasil hearing sesuai pemaparan Komisi IV DPRD Ngawi dihadapan wartawan menyebutkan, anggaran Rp 3,1 miliar terbagi atas pekerjaan inti yakni tugu menyerap budget  25 persen atau Rp 700 juta serta 17 persen atau Rp 480 juta untuk mechanical engineering (ME). Ditambah 58 persen atau Rp 1,65 miliar yang peruntukanya pada pekerjaan pelebaran jalan, pengaspalan, drainase, pengunduran lampu traffic light (lampu merah) dan plus pajak 10 persen. (lies)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here