Mari Batasi Iklan Rokok, Hindari Anak Balita Merokok

0
96

Surabaya, Sinar Pos

11 November 2018, Anak berhak mendapatkan perlindungan dari penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zt Adiktif) sebagaimana pasal 59 UU Perlindungan A
nak. munurut UU no. 36 tahun 2009 tentang kesehatan, tembakau rokok termasuk Zat Diktif. oleh karena itu rokok bukanlah konsumsi untuk anak (dibawah 18 tahun). karenanya anak berhak mendapatkan perlindungan dari paparan asap rokok, baik sebagai perokok aktif, perokok pasif dan thirdhand smoke serta hal hal yang mendorong terjadinya anak merokok, termasuk paparan iklan, promosi dan sponsor rokok pada anak.

Bahaya merokok bagi kesehatan sudah banyak diketahui antara lain jantung, paru, kanker leher, kanker mulut, gangguan kehamilan dan janin. Menurut data WHO, ada 5 juta kematian akibat rokok tahun 2005 diseluruh dunia. Memboroskan US$200 miliar, diperkirakan menyebabkan kematian pertahun pada 2020, 50persen terjadi di asia serta 10 juta kematian pertahun pada 2030. sebanyak 70 persen di negara berkembang.

Data yang dikumpulkan KPAI sebanyak 62,5 persen perokok mulai rokok sebelum usia 19 tahun (KPAI 2013). prevalensi perokok remaja usia 13-15 tahun sebanyak 12,6 persen pada 2006, menjadi 20,3persen pada 2009 (naik 1,5 kali lipat).

Pemerintah harus membatasi produksi rokok untuk melindungi warga negaranya dari bahaya rokok terutama kaum muda. Terbukti 45 persen pelajar indonesia sudah merokok.” Remaja cendrung memiliki rasa ingin tahu yang besar. Penelitian menunjukkan bahwa anak sekolah lebih mungkin untuk merokok daripada orang dewasa. Apalagi berdasarkan hasil riset terbaru diketahui bahwa jumlah remaja yang merokok setiap tahunnya semakin meningkat” kata Muhammad Ricky Cahyana, Sekjen komunitas Anti Rokok Indonesia (KARI) di jakarta (2015).

Tahun 2008 di Malang pernah ditemukan balita usia 4,5 tahun yang merokok sejak berusia 2,5 tahun. Karena ingin meniru kakek merokok. jika tidak diberi rokok menangis.

Sebuah penelitian di Thailand menyebutkan, dari perokok remaja, sebanyak 88 persen mengkonsumsi alkohol, 67 persen melakukan sex prematur dan 10 persen mengkonsumsi narkoba.

Perokok anak di indonesia naik signifikan dari 7,2 persen tahun 2013, menjadi 9,1 persen tahun 2018 (Riskesdes, 2018). Padahal target RPJPMN 2014 – 2019 untuk menurunkan prevalensi perokok anak menjadi 5,4persen pada tahun 2019.

Pada tahun 2017 lalu FKM Unair melakukan survey perilaku perokok pada anak sekolah di surabaya. Metode penelitian cross sectional study dengan sampel anak SD dan SMP sebanyak 385 anak di 5 wilayah geografis kota surabaya (utara, selatan, barat, timur dan tengah hasilnya anak SD dan SMP di surabaya. Sebanyak 6,75 persen masih merokok, sebanyak 26,23 persen pernah mwrokok, sebanyak 67,01 persen tidak pernah merokok.
Diantara anak yang pernah merokok fan masih merokok, usia tetmuda mulai merokok adalah 4 tahun dan paling tua 15 tahun. usia mulai merokok paling banyak 26,8 persen usia 10 tahun. Apabila rentang usia 9-13 tahun sebanyak 92,2 anak SD dan SMP yang pernah merokok dan madih merokok dan pertama kali merokok.

Kesan yang timbul dari iklan rokok yang dirasakan anak adalah, merasa dewasa 27,5 persen. Merada gaul 17,7 persen. Merasa percaya diri 9,4 persen. Sebanyak 12,1 persen anak yang tertarik untuk mencoba merokok setelah melihat iklan rokok. Sebanyak 14,5 persen anak akan merokok setelah melihat iklan rokok.

Uang telah dilakukan adanya regulasi kawasan tanpa rokok (KTR) itu merupakan salah satu indikator terwujudnya kabupaten/kota layak anak.
Pada ketujuh kawasan tersebut dilarang merokok.
Sosialisasi bahaya merokok bagi anak sudah dilakukan lewat forum Anak, OSIS, Remaja masjid dan Pramuka. Tetapi belum menjangkau seluruh anak.(Nwi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here