KOMINFO Gelar Workshop Dengan 252 Siswa

0
25

SURABAYA, SINAR POS – Kementerian Komunikasi dan Informatika  (Kominfo) menggelar Workshop dengan peserta  para siswa  SMA  Dengan Tema : Membangun Ekonomi Kreatif  Millenial di era digital di Surabaya Sabtu (6/10).

Kepala Sub Direktorat Audio visual dan Media Sosial Kementerian Kominfo Jakarta,  Dimas Aditya Nugraha  Menyatakan, acara ini sebenarnya rangkaian dari upaya  kementerian Kominfo  Telekomunikasi dan informatika untuk litrasi digital, kita campaign dengan orang-orang, Saring sebelum Sharing, semoga kemanfaatan media sosial  ini bisa di manfaatkan dengan baik, nanti kita undang narasumber  lainnya supaya mereka bisa cerita, kan tadi ada selegram dari Surabaya, bahwa  medsos ini kalau diluar pakai hoaks,  ya hoak, kalau dipakai nyebar hoaks terserah deh gitu ya, tapi yang anak-anak muda, jangan dong, kita pakai yang lebih positip, bagaimana caranya, saya kira kita bisa ngomong, kita bisa dapat duit loh dari situ, kemudian yang kedua ada pengusaha muda, dari Surabaya,  cerita, bahwa kebutuhan untuk industri  konten itu tinggi konten informasi ya, kan beliau dari pengusaha hotel, bagaimana cara menjualnya, bagaimana teknologi digunakan untuk itu dan bagaimana  penjualannya, kami di kominfo itu teknoplanner, teknoplanner adalah menggabungkan tiga skill, setidaknya untuk mereka mendapatkan manfaat dari  penetrasi internet.

Skill yang pertama TIK, TIK itu sekarang penetrasinya 56 persen, 135 juta penduduk Indonesia pakai internet, mau tidak mau kita harus tahu TIK, semua orang punya gadget, haruslah tahu membuat aplikasi, bagaimana,   seperti apa, atau bagaimana istilahnya bagaimana TIK harus bermanfaat gitu, kemudian skill yang kedua adalah membuat konten creator, jadi misalnya, dia punya TIK tapi penampilannya  tidak oke, secara visual jelek, dan lain sebagainya, orang tidak akan lirik, banyak banget informasi kalau tidak di trigger visual yang menarik, ya orang tidak akan tertarik, karena konten creator  itu penting.

Skill yang ke tiga adalah marketing, Sudah jago TIK, kemudian sudah  bisa bikin konten tapi dia tidak bisa menjual produknya, sama aja bohong, bikin sesuatu mungkin bermanfaat, tapi dia tidak bisa ngambil ada benefit prophit disitu, kita ngasih tahu tadi, narasumber-narasumber  cerita, bahwa TIK itu bisa dimanfaatkan  untuk ABC loh, gitu.

Kita ngajarin kalau secara umum dari kami, selain mengundang tokoh-tokoh yang inspirasi tadi,  untuk menginspirasi kami ngajarin bagaimana cara memanfaatkan gadget untuk bikin konten, smartphone itu bisa bikin konten juga loh, sekarang sesi workshop, siang hari sesi workshop. Mereka akan buat konten, Video kah, man  dari handphone dengan materi  talkshow yang tadi.ujarnya.

Sasarannya SMA, ini generasi millennial, kebetulan  kami di Kominfo itu ada brand yang namanya Indonesia gadget ID sasarannya adalah anak-anak muda sampai usia 34, sekarang ini kenapa anak muda, karena prosentasenya pengguna internet terbanyak adalah hampir  76 persen  anak muda itu menggunakan hand phone dan internet, mereka sudah tidak nonton TV, tapi via streaming, via youtube dan lain sebagainya.

Hidup mereka kebanyakan di internet, di handphone, makanya ada generasi nunduk dan lain sebagainya. Ceritanya seperti itu. Mereka hidup di dunia ini, jadi sasaran kami memang, kalau twiter di dunia maya di pakai oleh elit-elit politik atau gambar wacana dan lain sebagainya, mereka jauh dari dunia itu, anak muda itu justru lebih kreatif dan inovatif dalam menggunakan smartphone dan internetnya , jadi 74 persen anak muda hidup di hand phone dan internet, itu angkanya APJI, asosiasi pengusaha internet, itu kenapa anak SMA katanya.

Pesertanya sebanyak  252  siswa,  dari sebelas sekolah, 1- SMAN 6 Surabaya, 2- SMAU Amarotul ummah, 3- SMK Kristen Petra, 4- SMA Annajiah, 5- SMAN 16 Surabaya, 6- SMAN14 Surabaya, 7- SMKN 6 Surabaya, 8-  SMA Santo Carolus Surabaya, 9- SMA Dharma Wanita Surabaya, 10- SMK PGRI 13 Surabaya, 11- SMK PGRI 1 Surabaya.

Sebelum Surabaya,  di Bangka Belitung, minggu depan kerjasama dengan IPPNU (Ikatan Pelajar Puteri Nahdlotul Ulama), tanggal 18 di Kediri  sekitar 800 santri, Pihaknya tidak bekerja sendiri, tapi punya jejaring, tuturnya. (Nwi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here