MASYARAKAT HARUS DI BEKALI KETAHANAN INFORMASI

0
19

SURABAYA, SINAR POS – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Jawa Timur (Jatim), Menggelar diskusi “Saring Sebelum Sharing” Literasi Digital sebagai upaya Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat di Surabaya Rabu (26/9).

Dosen Universitas Airlangga, Randy Pahrun Wadipalapa menegaskan Perkembangan teknologi dan informasi membuat masyarakat dengan sangat mudah untuk menerima bahkan menebar informasi. Padahal ada sejumlah pertimbangan yang hendaknya dikedepankan agar yang tersebar bukanlah kabar bohong atau hoaks.“Pengguna internet di Indonesia ini hampir separuh lebih dari jumlah penduduk,”. Dan celakanya, tidak semua pengguna internet atau bahkan kebanyakan adalah mereka yang kurang memiliki ketahanan dalam informasi, ujarnya.

Randy  juga memaparkan sejumlah fakta bahwa tidak hanya kalangan masyarakat bawah yang gemar berbagi kabar bohong. “Mereka yang berstatus mahasiswa, dosen bahkan guru besar sekalipun tidak sedikit yang berperilaku menebar kabar bohong alias hoaks,” katanya.

Karenanya, Randy berharap ada kesadaran bersama dari para pengguna internet untuk lebih disiplin. “Bisa mendisiplinkan diri di grup WhatsApp keluarga saja itu sudah lumayan,” tambahnya.

Baginya, setiap pengguna internet harusnya memiliki keterampilan untuk melihat dan memilah informasi yang relevan sebelum membaginya kepada orang lain. “Karenanya, harus berani dan kritis atas kredibilitas sebuah pesan,”,  Bahkan secara khusus, Randy berharap kepada peserta diskusi sebelum menuliskan status, pendapat, menebar gambar dan sejenisnya di media sosial untuk memperhatikan sejumlah ketentuan.“Pertama, pastikan telah memikirkan risiko dan dampaknya bagi pengguna lain,”. Demikian pula kualitas postingan, ketepatan data yang digunakan serta kejelasan sumber.

Dengan besarnya pengguna internet dan dampak yang diakibatkan dari postingan seseorang di media sosial, maka Randy  berharap akan ada integrasi materi literasi media ke dalam kurikulum pendidikan. “Sayangnya, ini kerap diwacanakan, namun belum bisa dilakukan,”.

Randy  berharap dukungan negara atas gerakan literasi media berbasis komunitas. “Paling tidak, ada panduan yang bisa diaplikasikan sebagai panduan khususnya di kalangan keluarga karena bisa dikerjakan oleh siapa saja,”. Tuturnya (Nwi).

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here