Prosesi Jamasan Tombak Kanjeng Kyai Upas Tulungagung

0
57

Tulungagung, Sinar Pos

Jum’at, (21/09/2018) Pusaka Tombak Kanjeng Kyai Upas milik Kabupaten Tulungagung menjalani proses penjamasan ( pencucian ). Pusaka yang merupakan cikal bakal berdirinya Kabupaten Tulungagung ini biasa disucikan pada bulan Suro penanggalan Jawa. Pada tahun ini prosesi Jamasan dilakukan di ruang penyimpanan pusaka milik Pemkab Tulungagung, gedung Perpustakaan Jalan Urip Sumoharjo, Kelurahan Kepatihan, Tulungagung.

Prosesi penyerahan air siraman pusaka  dilakukan Plh Bupati Tulungagung, Indra Fauzi. Biasanya yang menerima air pusaka asal Mataram ini adalah Bupati atau Wakil Bupati Tulungagung. Namun pada saat ini Kabupaten Tulungagung belum mempunyai Bupati definitif. Sehingga upacara jamasan Tombak Kanjeng Kyai Upas yang diadakan bulan Suro dalam penanggalan Jawa ini terasa hampar.

Hadir dalam acara tersebut Wakil Bupati Tulungagung terpilih Maryoto Birowo,  unsur Forpimda Tulungagung, Kepala OPD Lingkup Pemkab Tulungagung, Camat, Lurah, Kepala Desa, anggota dewan, Kapolres Tulungagung dan Dandim 0807 Tulungagung.

Plh Bupati Tulungagung Indra Fauzi mengatakan Jamasan Pusaka ini adalah budaya leluhur yang harus dilestarikan. Menurutnya kepercayan masyarakat Tulungagung tentang sejarah panjang Kyai Upas , salah satunya adalah membentengi Tulungagung dari marabahaya. Bahkan kepercayaan masyarakat Tulungagung turun – temurun , tombak ini dulu mampu menghadang pasukan Belanda yang hendak masuk ke Tulungagung. Indra Fauzi menjelaskan , kegiatan ini dilakukan setiap satu tahun sekali, yakni pada tanggal 10  Suro. Indra Fauzi mengajak warga Tulungagung berdo’a agar Tulungagung tetap kondusif, tertib dan aman. “Jamasan ini adalah budaya leluhur yang harus dilestarikan, karena menurut

kepercayaan masyarakat mampu membentengi marabahaya, salah satunya  pusaka ini menghadang kolonial Belanda ke Tulungagung, ” Ungkapnya.

Para petugas Jamasan pusaka memakai pakaian adat lengkap dengan blangkon kejawen .Pusaka tombak Kanjeng Kyai Upas memiliki panjang sekitar 35 sentimeter , ditopang landean sekitar empat meter dan dibungkus kain berwarna merah .

Pusaka selanjutnya diletakkan ditempat yang sudah disiapkan , selanjutnya dimandikan menggunakan air dan beberapa bahan lainnya. Setelah pusaka dimandikan , dilanjutkan selamatan. Para sesepuh ,sejumlah pejabat lingkungan Pemkab Tulungagung dan masyarakat umum duduk bersama .Mereka berdoa demi keselamatan bersama  .Usai seluruh  prosesi  masyarakat berebut sisa air jamasan. Menurutnya air dari sembilan sumber ini dipercaya mempunyai khasiat, karena dibacakan doa – doa. Sebagian masyarakat percaya air itu bisa membawa berkah dan menyembuhkan berbagai penyakit.( Har )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here