Indonesian Tourism Exchange

0
76

SURABAYA, SINAR POS – 19 september 2018,

Ketua DPD Astindo Jatim, punya usaha sendiri namanya SUN Tour, dan  Sun Mice, Yongki Yan Wintarko mengatakan,  ini adalah kegiatan dari table top (be to be) bisnis meeting. Pertemuan antara industri pariwisata,  teman-teman travel di Surabaya (jatim) dan Indonesia bertemu di program ITE ini yang diadakan di hotel Haris, bertemu sama teman-teman dari Seller, hoteler, obyek wisata dan juga inbound operator dari luar negeri. Kita harapkan dari pertemuan ini mereka sudah mendapatkan program soal harga yang menarik untuk dijual ke kliennya, customer dari agent itu sendiri.

Pesertanya, Sellernya  47, dari inbound operator, dari hoteler, obyek wisata dan juga dari dinas provinsi jatim dan dinas kota Surabaya, dan 150 travel agent, se jatim.

Promonya, kebetulan ini be to be, mereka memperkenalkan produk-produk dari hotelnya, destinasi wisata, seperti tadi ada jenang dari blitar, ada dari kampong lawas maspati, mangrove, jadi memperkenalkan destinasi pariwisata kepada teman-teman, travel agent, tentunya travel agent akan bisa tahu apa yang bisa di kunjungi di kota Surabaya. Atau mungkin kalau ke jatim, wisata mana yang bisa dikunjungi, bisa di jual kepada customer, ujarnya.

Ini event yang ke 5, dulu pernah ada Surabaya travel mark, itu memang lokal, satu daerah, jadi kami berpikir,  kita akan merubah jadi Indonesia tourism Exchange (ITE). Ini lebih nasional, brand ini nanti akan kami bawa ke Jakarta, Jokyakarta, Bandung, Makassar, nanti namanya ganti menjadi Makassar, Jakarta, tergantung event ini diadakan dimana. Ini memang pertama kali diadakan di Surabaya, nanti ke Bali, namanya Indonsian Tourism Exchange Bali, tahun 2019. Sifatnya lebih nasional, itu tujuan kami keluar dari kota Surabaya.

Pengaruh Dolar, Dolar memang dikisaran Rp 14.800 tapi kalau kita bicara outbound memang sedikit pengaruh, banyak yang ngerem, keberangkatan di bulan desember, tapi  kita menggunakan kurs rupiah, menjual dalam rupiah, jadi tidak terlalu besar pengaruhnya. Sekarang dolar sudah mulai turun dan mulai stabil, kenaikan kemarin hanya sesaat saja, tapi kususnya pariwisata domestik atau dalam negeri itu masih banyak,  tamu-tamu dari luar jatim datang ke Bromo itu masih banyak, apalagi Bromo jadi satu ikon dari pada sepuluh destinasi wisata di Indonesia, Mestinya kita optimis, jatim ini lebih banyak orang datang khususnya ke Surabaya, katanya.

Keluar negeri memang charter flight, itu tidak bisa di lawan karena di subsidi oleh pemerintah China, seperti Hainan, itu mereka mencharter flight dari Hainan menuju ke Surabaya atau Jakarta. Dengan harga dibawah 5 juta, bisa 9 juta itu 5 hari 3 malam, bayangkan ke china Cuma Rp 4.500.000 selama 5 hari, itu memang policy dari Negara china, mereka memberikan subsidi kalau mereka bisa mendatangkan wisatawan, mereka akan mendapatkan bonus, satu orang bisa cukup besar nilainya. Ini pemerintah Indonesia belum bisa lakukan karena policy dari pemerintah china, tiap provinsi mereka punya policy sendiri  untuk mempromosikan daerahnya masing-masing. Kalau pemprov jatim punya dana bisa, ayo dari china, dari Philippine  datang,  kita berikan subsidi, apa ini bisa, harus dipikirkan oleh pemerintah bagaimana punya dana yang besar untuk menarik wisatawan, China sudah lakukan itu, bantu dengan harga murah, orang bisa pergi, tapi ini industri pariwisata kan multi efek, ya kalau orang datang kesana pasti belanja, makan, minum, kegiatan itu bisa menghasilkan putaran ekonomi. Tutur Yongki Yan Wintarko. (Nwi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here