Tuna Netra Hafal 30 Juz dalam 8 Bulan Jadi Inspirator

0
48

SURABAYA, SINAR POS

Banyak cara yang dilakukan untuk merayakan tahun baru Islam. Griya Al Qur’an Surabaya, mengumpulkan para ratusan penghafal Al Qur’an untuk merayakan datangnya tahun 1440 Hijriyah itu. Dalam acara yang dibungkus dengan nama Majelis Pecinta Al Qur’an ini, memilih tuna netra yang hafal 30 juz sebagai inspiratornya.

Selasa (11/9), di gedung DBL Arena Surabaya, 206 penghafal Al Quran resmi dikumpulkan dalam acara Majelis Pecinta Al Qur’an. Tidak hanya itu ratusan penghafal Al Qur’an itu juga diwisuda secara bersama-sama yang disaksikan sekitar 2000 masyarakat yang hadir.

“Para wisudawan itu sudah melalui seleksi yang ketat,” ujar Wirawan Dwi, Ketua Panitia kegiatan itu. Semua calon wisudawan, ujarnya, selalu melalui 5 tahap, pendaftaran, tes, pembinaan, tasmi’ dan wisuda.  Semua peserta yang mendaftar akan dites. “Jika tidak lulus, kami memberi kesempatan berikutnya di tahun depan,” ujar Wirawan. Yang tidak lulus, tambahnya, biasanya belum memenuhi kaidah bacaan yang benar.

Para Penghafal Al Qur’an Dites Ketat

Setelah tahap tes, para calon wisudawan akan mendapatkan pembinaan dan tasmi’. “Tasmi’ itu proses memperdengarkan semua hafalannya kepada para ustadz Griya Al Qur’an, semuanya bahkan yang 30 juz sekalipun, harus diperdengarkan. Lalu para ustadz kami akan membacakan ayat secara acak, lalu mereka meneruskannya,” tambah pria yang juga menjadi Public Relations Griya Al Qur’an ini. Wirawan kemudian melanjutkan bahwa setelah proses itu, baru mereka bisa mengikuti wisuda.

Para penghafal Al Qur’an itu terbagi dari beberapa tingkatan hafalan, ada yang 2 juz, 5 juz dan kelipatannya hingga tuntas 30 juz. “Sebagian besar para wisudawan, di atas 40 tahun, bahkan ada yang 70 tahun lebih,” kata Wirawan.

Dalam wisuda ke 7 Griya Al Qur’an ini, juga mendatangkan para inspirator Al Qur’an, yaitu Sri Lestari, wanita 67 tahun yang berhasil menghafalkan  17 juz Al Qur’an setelah pension. “Beliau ini 8 tahun lalu mendaftar di Griya Al Qur’an, dan saat dites, masuk di kelas dasar 2, masih tahap mengenal huruf. Sekarang beliau sudah hafal 17 juz,” ujarnya.

Inspirator Al Qur’an lain yang tepilih adalah Arifin Sholeh, pengusaha yang punya hafalan sebanyak 15 juz. Dalam pertemuan itu Arifin mengatakan, “Saya awal-awal dulu menghafal satu surat selama 2 bulan, kemudian setelah menguatkan niat, dalam setahun dapat 10 juz,” ujar Arifin. “Dulu, saya merasa tidak punya waktu untuk menghafal Al Qur’an, dan benar, Allah mengabulkan, waktu saya sempit sekali, benar-benar tidak  sempat. Padahal saat saya berniat, justru Allah memudahkan. Semua tergantung niat kita,” pesannya.

Rumah Tangga Hampir Hancur Karena Buta

Berikutnya, Abdul Manan terpilih menjadi salah satu inspirator Al Qur’an ketiga. Pria tuna netra ini berhasil menghafalkan 30 juz Al Qur’an dalam keadaan buta dan dalam waktu 8 bulan.

“Saya menghafal Al Quran setelah dua tahun tidak bisa melihat, tepatnya pada tahun 2009 dan saya tidak bisa melihat mulai 2007, saat itu saya mulai menghafal dengan menggunakan Mp4 yang dibantu oleh istri saya,” tutur Manan.

Abdul Manan mulai menghafal di usia 39. Sudah 9 tahun ini, pria 48 tahun ini menekuni Al Quran. Setiap 1 minggu, ia mengaku selalu menabah hafalan 1 Juz, begitu seterusnya  hingga saya menghafal 30 Juz dalam waktu 8 bulan.

Pria asli Probolinggo ini menceritakan metode menghafalnya.  “Saya hanya mengandalkan Mp4, saya dengarkan sebanyak-banyaknya, sambil mencoba menirukan. Ini saya lakukan pada tengah malam setiap hari, seusai bangun dari tidur. Bacaan it uterus-menerus saya ulang,” akunya

Abdul Manan mengaku sempat shock saat indera pengelihatannya direnggut penyakit Glukoma. Ia merasa hancur kala itu. “Bahkan rumah tangga saya di ujung tanduk. Bukan karena istri saya yang tidak menerima, namun saya merasa tidak pantas jadi suami. Saya tidak bisa bekerja lagi,” katanya.

Kegundahannya berlangsung selama dua tahun, sampai kemudian ia memutuskan untuk menjadi penghafal Al Qur’an. Di awal-awal kebutaan,  Manan bercerita, seorang teman menyarankannya untuk mencoba menghafalkan Al Qur’an. “Hanya saya iyakan, tapi saat itu saya merasa tidak mungkin. Wong saya melihat aja tidak bisa hafal, apalagi saat saya buta,” ujarnya.

Namun setelah dua tahun berjalan, ia mengaku harus bangkit. Ia merasa harus membuktikan, bahwa ia bukan tuna netra biasa, ia mencoba menghafalkan Al- Qur’an secara diam-diam, tanpa diketahui istri dan anaknya. “Mereka baru tahu saat saya sudah hafal 30 juz Al Qur’an. Mereka kaget bukan main,” akunya.

Abdul Manan dan para inspirator Al Qur’an yang hadir di acara Majelis Pecinta Al Qur’an, menurut Wirawan, membuat warna tersendiri dalam kegiatan itu. “InsyaAllah mereka akan menjadi inspirator peserta yang hadir untuk menjalani tahun selanjutnya dengan lebih mantap dengan naungan Al Qur’an,” tegas Wirawan. (Nwi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here