Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia Jatim Serukan Harga Rokok Mahal

0
71

SURABAYA , SINAR POS – Duapuluh  Penderita penyakit  yang  disebabkan konsumsi rokok di jatim hari ini Minggu (22/7) berkumpul  di Surabaya dan mendeklarasikan diri bergabung dalam Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI). Aliansi ini mendesak pemerintah untuk segera membebaskan masyarakat  jatim dari bahaya  konsumsi rokok.

Koordinator  AMKRI, Helena Liswardi mengungkapkan,  dalam advokasi  dalam pengendalian tembakau, salah satu elemen penting sebagai pendorong adalah suara para korban, Korban rokok adalah saksi mata sekaligus bukti nyata bahaya rokok dan efeknya dalam kehidupan para korban, baik dalam kesehatan, hubungan sosial masyarakat dan keuangan ujarnya.

Helena menjelaskan, pada 22 Oktober 2012, para korban rokok di jabodetabek yang ingin ikut berjuang bersama dalam pengendalian tembakau di Indonesia  juga telah bersatu sebagai  AMKRI. Mereka tidak  hanya jadi wakil lebih dari 200.000 korban meninggal setiap tahun akibat konsumsi rokok, namun juga wakil keluarga dan siapa pun yang merasa menjadi  korban rokok tuturnya.

Sementara itu, Ketua Tobacco Control Support Center, Dr Santi Martini, Dr. M.Kes,  mengakui harga rokok di Indonesia memang terlalu murah, ini menyebabkan jumlah perokok pemula diketahui meningkat  dari 7,2%  pada 2013 menjadi  8,8 %  pada 2016 (Sirkesnas,2016). Padahal sebelumnya pemerintah melalui Kementerian kesehatan menargetkan penurunan prevalensi perokok anak usia di bawah 18 tahun sebesar  1%  setiap tahunnya. Ini menunjukkan, rokok  murah juga mendorong  anak-anak yang mampu membeli rokok dan dapat teradiksi sehingga menjadi perokok tidak dapat berhenti seterusnya.

Berdasarkan  riset Atlas Tobacco Indonesia menduduki  ranking  tiga Negara dengan jumlah perokok tertinggi  di dunia. Jumlah perokok  di Indonesia tahun 2016 mencapai 90 juta jiwa. Indonesia sendiri menempati  urutan tertinggi prevalensi  merokok bagi laki-laki di Asean yakni sebesar 67,4 persen.

Kenyataan ini diperparah bahwa perokok di Indonesia usianya semakin muda. Data komisi nasional (Komnas) Perlindungan anak menunjukkan  jumlah perokok anak  dibawah umur 10 tahun di Indonesia mencapai  239.000 orang. 19,8 %  pertama kali mencoba rokok sebelum usia 10 tahun, dan hampir 88,6% pertama kali mencobanya dibawah usia 13 tahun.

Lebih miris lagi, sebanyak  84,8 juta jiwa perokok di Indonesia berpenghasilan kurang dari  Rp.20.000 per hari. Perokok di Indonesia 70% di antaranya berasal dari kalangan keluarga miskin. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa pada bulan September 2016, rokok adalah komoditas  yang menyumbang kemiskinan sebesar 10.70% di perkotaan dan pedesaan.

“Kalau harga rokok tidak segera dinaikkan, maka Indonesia akan segera menghadapi gangguan ekonomi yang disebabkan menurunnya produktivitas dan membengkaknya  anggaran jaminan kesehatan nasional”, tutur Dr. Santi. (Nwi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here