RIBUAN PESILAT BERKUMPUL DI MADIUN, ADA APA…?

0
105

MADIUN, SINAR POS

Ribuan pesilat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dari berbagai daerah berkumpul di Kota Madiun, mereka dengan khidmad mengikuti peringatan 1.000 hari meninggalnya mantan Ketum PSHT di Padepokan PSHT Kota Madiun, Minggu (15/7)

Yaitu peringatan 1.000 hari KRAT Tarmadji Boedi Harsono yang merupakan guru besar PSHT dan mantan Ketua Umum PSHT. Acara malam peringatan 1.000 hari meninggalnya KRAT Tarmadji Boedi Harsono digelar di Padepokan Agung PSHT di Jl. Merak, Kelurahan Nambangan Kidul, Kota Madiun , Minggu (15/7) malam.

Tampak hadir sebagai undangan Emha Ainun Najib (Cak Nun) dan Kiai Kanjeng dan sejumlah pejabat daerah seperti Bupati Trenggalek yang juga calon wakil gubernur Jawa Timur terpilih, Emil Dardak, calon Walikota Madiun terpilih, Maidi, dan calon Bupati Madiun terpilih Ahmad Dawami.

Para pesilat itu memadati kawasan padepokan dengan mengenakan seragam serba hitam khas seragam mereka, Tidak semua anggota diizinkan masuk hanya pesilat yang memiliki undangan yang diperbolehkan masuk, yang lain hanya bisa mengikuti jalanya acara melalui layar lebar yang di sediakan panitia di lapangan tidak jauh dari padepokan.

Ketua Umum PSHT, R Mardjoko HW, dalam sambutannya mengatakan acara ini untuk mengenang 1.000 hari meninggalnya mantan Ketum PSHT, KRAT Tarmadji Boedi Harsono. Selain itu, acara ini juga untuk mengenang seluruh pendiri PSHT yang telah meninggal dunia.

Dia menyampaikan keberhasilian SH Terate tidak bisa lepas dari jerih payah pemikiran para pendahulu dan pendiri PSHT. “Kepada pendahulu kami yang telah berjasa. Semoga diampuni segala dosanya,” Ungkapnya dalam sambutan.

Dalam peringatan tersebut, kata Mardjoko, keluarga besar PSHT memberikan sebuah penghargaan berupa lencana kepada 10 pendiri PSHT. Pemberian lencana ini sebagai bentuk penghargaan atas segala jasa yang telah dilakukan selama ini.

Beberapa nama yang diberikan lencana yaitu Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang merupakan Pendiri PSHT, Soetomo Mangkoedjojo, KRAT Tarmadji Boedi Harsono, dan lainnya. Dalam acara itu juga dibacakan sejarah perjalanan PSHT dari awal berdiri sampai saat ini memiliki ratusan cabang di seluruh Indonesia.

Cak Nun sebelum memulai pengajian juga bercerita kisah hidupnya yang dekat dengan tradisi pencak silat. Namun, dirinya justru tidak belajar ilmu bela diri silat. “Aku kok merasa iri karena ga bisa pencak silat. Saya bersyukur bisa diterima di sini,” ujar Cak Nun sebelum memulai melantunkan salawat dengan diiringi musik Kiai Kanjeng. (Lies)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here