Principal Professional Development Seminar

0
72

SURABAYA, SINAR POS – Australia-Indonesia BRIDGE  School  partnership menyelenggarakan seminar tentang Pendidikan  di Hotel Santika Gubeng  Surabaya Rabo (3/7).

Program Manager Bridge, Robertus  Raga Djones mengatakan Principal Professional Development Seminar, adalah bagian dari program Bridge, program bridge ini dikelola oleh Asia education foundation Austeralia, didanai oleh Pemerintah Austeralia. Program ini dia mau meningkatkan hubungan Australia lewat pendidikan melalui kemitraan  sekolah Indonesia dan sekolah Austeralia. Didalam kemitraan itu kita membangun  pemahaman antar budaya kemudian  belajar saling peraktek beda kuci, pembelajaran kemudian juga berkaitan pemahaman  IT  dari para guru, salah satunya itu berkaitaan dengan  Kepala sekolah ini, kita harapkan  bahwa  kepala sekolah bisa memahami  konteks pendidikan di Indonesia, dalam hal ini yang punya korelasi dengan  isu-isu pendidikan di Australia. Seperti Pendidikan inklusi, kemudian berkaitan dengan pengurangan resiko bencana, kemudian berkaitan dengan isu-isu  yang perlu di address juga didalam system pendidikan kita. Untuk kegiatan itu perlu kegiatan seperti ini. Ujarnya.

Program bridge di Indonesia sejak tahun 2008, tapi kegiatan  yang sama  disurabaya  ini  yang kedua.  Sedangkan untuk guru itu sudah mulai tahun 2008, sudah ada 19 sekolah yang tergabung dalam  bridge ini, dan satu sekolah diwakili dua guru,  Mereka ke Austeralia, semua di fasilitasi oleh pemerintah Austeralia. Dari pembuatan paspor sampai  akomodasi semuanya ditanggung oleh pemerintah Austeralia, tujuannya supaya mereka selain untuk menjalin kemitraan dengan sekolah-sekolah Austeralia juga berkaitan dengan peningkatan kompetensi guru. Terutama  dalam hal  pemahaman antar budaya kemudian kompetensi bedagojik juga penguasaan  IT dan bahasa.

Total semua sampai saat ini ada  228  guru sampai dengan tahun 2017. Kita hanya program untuk guru, setelah itu kita ada independensi untuk sekolah, untuk menjalin kemitraan dan independensi itu hanya beberapa sekolah tertentu , kalau peserta yang bagus mereka mengirimkan anak-anak  juga, tapi itu kemandirian sekolah, hanya satu kali saja. Mengrimkan guru ke Austeralia.

Tahun 20218 ini hanya satu sekolah dari Surabaya dari Bumi Sholawat Sidoarjo yang terpilih, akan berlanjut, tapi bentuk kegiatannya itu belum bisa memastikan karena ini tahun ke sepuluh, kita melakukan evaluasi  untuk kita melihat kemungkinan-kemungkinan yang lebih baik, program ini lebih efektif berjalan. Katanya.

Di program bidge ini, Yang terpenting  kita bisa saling memahami antar budaya, memahami keberagaman, salah satu koor  dari pada  di program ini adalah bagaimana kita memahami keberagaman kebudayaan  baik kebudayaan bangsa lain,  maupun  kebudayaan  antara  kita yang sangat majemuk ini, jadi pesan intinya  adalah , menghargai kebudayaan, menghargai keberagaman  dan juga bagaimana menerapkan pembelajaran yang efektif  yang bisa membantu peserta  didik untuk memiliki kompetensi global , juga  berkaitan dengan kemampuan berhasa dan kemampuan IT. Menurut  saya kalau program  bridge ini bisa jadi model bagi pemerintah Indonesia  dalam hal , bagaimana pola sebuah pendidikan itu dibuat untuk mengembangkan daya potensi global peserta didik, dalam hal ini berkaitan pemahaman dalam budaya bangsa lain, berkaitan dengan inklusifisme, berkaitan dengan menghormati menghargai keberagaman dan juga berkaitan dengan  pembelajaran kreatif inovatif dan mengutamakan kritikal thinking tuturnya.(Nwi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here