2nd Indonesia Circular Economi Forum

0
56

SURABAYA, SINAR POS – Di Indonesia, setiap anggota  PRAISE telah secara aktif memulai, mendukung, memfasilitasi dan ber infestasi dalam berbagai program dan inisiatif yang bertujuan meminimalkan dampak sampah kemasan . Praktik praktik terbaik ini mencerminkan komitmen kami berkelanjutan, dengan mempertimbangkan keseluruhan siklus hidup kemasan .

Di Acara Redefining Waste Managemen From Trash to Resources Managemen Grand City Surabaya 28 – 30 Juni 2018, Tenaga Ahli Menteri Bidang Kebijakan Pengelolaan Sampah Limbah B3 (Bahan beracun berbahaya), Tuti Hendrawati, Mengatakan kepada Wartawan,  Sangat menyambut kegiatan ini, dan berharap  ini terus berlanjut ditahun tahun mendatang karena me,mang ini harus selalu  baru di gaungkan karena  mungkin yang tahu baru sebagian, mungkin kalau terus menerus dilakukan  akan semakin banyak   orang yang paham, kemudian mereka bisa mentrapkan di rumahnya, di perusahaannya, di industrinya, jadi memang yang utama  industri  ini,  mungkin yang utama tidak hanya sampah tapi juga limbah. Ujarnya.

Menjawab pertanyaan wartawan  tentang pemerintah Denmark di Cilacap, Tuti menjawab tentang kerjasama Denmark, yang   pertama prosesnya agak lama karena kita harus memastikan semua pemdanya siap. Holcimnya siap, kemudian Denmark nya juga siap, karena technology RDF ini refuse,  itu tekhnologi yang mahal tapi aman buat lingkungan, dan ini kerjasamanya bagus, mesinnya dari Denmark, rumah yang untuk itu, PU yang bangun, kemudian in pipingnya pemerintah daerah cilacap yang menyediakan, jadi tidak  free begitu saja. Jadi harus ada pengolahan pembayaran it ping Fee, kemudian  bappenas  meng organisasi,  alhamduliilah itu bisa selesai dalam waktu yang singkat kemarin, kita geber selesai dan itu tidak hanya di cilacap, di semarang  mereka juga ada. Jatim dari Denmark belum ada,  tapi bantuan KLH di jambangan pusat daur  ulang sangat menarik, karena masyarakat di sekitar jambangan itu juga sudah peduli terhadap sampah, mereka melakukan reduce de sampah dari limbahnya kemudian sisanya dibawa ke sana.ujarnya.

“Di jambangan kita kasih  dana hampir Rp. 1,5 miliar untuk pembangunan, dana itu kita serahkan kesana untuk cepat membangun, pusat daur ulang”.

Di Cilacap Satu  mesin  besar, tapi kita harus menyediakan rumahnya, bagaimana  sampah itu disimpan dulu sebelum dimasukkan kesana  harus  diatur, kemudian di semarang itu seperti insinerator,  kemudian  briketnya dijadikan kayu bakar,  kan selama ini pakai batu bara, dengan adanya hasil briket itu bisa mengurangi penggunaan batu bara. Katanya,

Ditambahkan Tuti Hendrawati, di Jakarta pengelolaan sampahnya 7000 ton perhari, tinggal dikalikan saja, per orang menghasilkan berapa  kilogram per hari, dikalikan populasinya, yang sebetulnya LHK sudah membuat  data yang terintegrasi, itu di launching semua, nanti semua bisa di akses oleh setiap orang, kedepannya nanti kalau di klik ketahuan, di TPA ini  sampahnya ada berapa hari ini, di Surabaya, di sumatera, rencananya seperti itu. Orang tahu kondisi sampah di Indonesia seperti apa tutur Tuti Hendrawati. (Nwi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here