UN Tahun Ini Skala Nasional Jatuh 20 Persen, SMK Naik 23 Persen

0
49

SURABAYA, SINAR POS – Dinas Pendidikan Provinsi Jatim menggelar Penguatan Program Pendidikan Menengah Kejuruan  Tahun 2018 di Surabaya 21 – 23 Mei 2018.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim, Syaiful Rachman  mengatakan, Acara ini untuk penguatan program kedepan, Provinsi jawa timur harus lebih baik dari apa yang sudah kita laksanakan, punya prestasi, prestasi prestasi itu tentunya ya memang sudah jadi ukuran nasional. Di ujian nasional tempo hari seluruh nya merosot  20 persen untuk skala nasional.  SMK mengalami kenaikan, yang tahun kemarin  55 persen, sekarang jadi 78 persen. Ujarnya.

Rohis islam di sekolah itu penting, tapi pengendalinya harus kepala sekolah, ini yang kecolongan ada sekolah yang fanatik, Kepala sekolahnya merasa enak, bebas, gratis, yang ngisi materi itu alumni alumninya, alumni yang kita tidak tahu sejauh mana dia, mendapatkan pengaruh pengaruh, ini yang disampaikan kepada adik adiknya, Ini dirubah saja, tidak perlu mendatangkan alumni, mohon Bapak ibu sebagai kepala sekolah, tolong di pantau, jadi  rois rois di sekolah di pantau kegiatannya, tidak perlu men datangkan alumni yang tidak jelas, karena alumni itu sudah berada di luar, kalau di sekolah itu tanggung jawab Bapak Ibu sekalian, harus tetap pembinaannya Bapak dan Ibu Guru.

Guru agama, guru yang keagamaannya bagus, ini terus terang kita disuruh menghapus rois, saya tidak mau, kita benahi, jadi  semua ini hasil pendidikan, teroris  itu juga hasil pendidikan, bagaimana dia bisa membuat Brand wash dalam waktu dekat, bisa merubah pola pikirnya, itu juga hasil pendidikan, itu pendidikan yang bagus bisa merubah dengan cepat, kalau Bapak Ibu perlu 3 tahun di SMK, tapi itu tidak, terlalu lama, cari orang orang yang pinter pinter, ini tolong introspeksi Bapak Ibu di sekolah.

Yang saya akui sebagai kepala sekolah SMK, tujuannya satu adalah mempersiapkan lulusan yang berkualitas, yang siap kerja. Tapi kita ada kelemahan kelemahan disitu, skock seorang kepala sekolah, memang harus berkualitas, memang kepala sekolah itu berat, saya ingin naikkan tunjanagannya kepala SMK itu, rapatnya baru tadi, saya ajak ngomong, nanti 2019 kita menggunakan renumerasi. Nanti ada beberapa usul, targetnya kepala dinas, ucapnya.

Ini program KPK, Jatim diminta KPK untuk segera direalisasi, karena ini untuk mengurangi  tindakan tindakan  korupsi, jelas, nanti semua pekerjaannya dihitung. Bebannya dihitung, termasuk rapat dihitung, jadi ada kinerja utama, kinerja rapat rapat, menghadiri seminar, kemudian ada kinerja penunjang. Kepala sekolah itu tugasnya berat, harus menguasai semua lini, dari hal terkecil, urusan kesiswaan tahu, urusan organisasai sekolah tahu, urusan hubungan industri  harus, keuangan juga harus, dan termasuk disini BOS ini, kemarin saya betul betul dihakimi oleh Bapak Gubernur, ada dua minggu menjelang temu akhir BPK, Dinas pendidikan yang belum ter SPJ BOS  itu, 681 miliar, itu kurang lebih 64 persen, memang besar karena kita dihitung 5,3 triliun, jadi saya bertanggung jawab di 10,3 triliun. Jadi tanda tangan saya itu harganya 10,3 Triliun, semua yang bertanggung  semua itu saya, ada masalah apapun saya, kepala sekolah enak, tinggal bagi saja, tapi Bank SPJK itu kemarin yang kesulitan, kenapa negeri dan swasta mulai SD SMP SMA SMK PKLK, akhirnya semua, habis dimarahi Pak Gubernur, saya tidak kehilangan akal, kalau saya dimarahi Pak Gubernur, saya marahi  dibawahnya, Kepala bidang tidak boleh pulang sampai jam 12 malam, harus, akhirnya  setelah  lapor ke Pak Gubernur sudah terserap 95 persen, tapi kemarin masih lagi BPK itu, tidak mau, harus 100 persen, jadi minggu kemarin itu, Pak Hudi di obrak obrak, jadi tadi,  hari ini BPK survey langsung di Sidoarjo, SMK SMK dan satu SMA itu saya laporin 100 persen terserap,  masih tidak terima BPK, cari prestasi. Dulu sebelum punya kewenangan, saya santai saja, tapi setelah punya, ini semua tanggung jawab saya, semuanya harus bagus, termasuk bank jatim juga saya kontrol,  kalau ada sekolah yang memindah bukukan dari bank jatim ke bank lain, ini pasti ada masalah, ini jangan sampai terjadi. Katanya.

Kadang kala ada penggalangan dana yang akhirnya jadi beban, Pada awal awal jadi kepala dinas saya, pernah saya wacanakan tidak perlu ada wisuda, wisuda itu haknya perguruan tinggi, tapi rupanya kepala sekolah lebih pinter daripada kepala dinas, namanya tidak wisuda lagi, tapi Purnawiyata, tempatnya di hotel hotel mewah, ini jadi beban, saya pernah ke Tulung Agung, SMP itu Purnawiyatanya di hotel berbintang   empat, itu orang tuanya datang semua, tapi kalau ada masalah keuangan, ya orang tuanya. Ini janagan jadikan beban kita. Tuturnya. (Nwi)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here