GP. Farmasi Indonesia Gelar Musda Prov- XV

0
150

SURABAYA, SINAR POS –  GP. Farmasi Indonesia  Menggelar Musda Prov ke XV dengan Tema  Kita tingkatkan profesionalisme  usaha farmasi untuk ikut serta menyehatkan dan mensejahterakan Bangsa sesuai kebijaksanaan Pemerintah di Hotel Wyndham Surabaya Senen (14/5).

Ketua Umum GP Farmasi Surabaya , Philips Pangestu, mengatakan Musprov.  kali ini tujuannya pemilihan ketua yang baru, karena  organisasi ini paling diakui oleh pemerintah, jadi kita  tetap menjaga eksistensi ini, menampung aspirasi, kita membawahi beberapa bidang, industri, restribusi, apotik, dan toko obat. Dari ini anggota anggota  ini aspirasinya  kita bina dalam menghadapi  dinamika, undang undang   pemerintah supaya kita kedepan semakin solid, dan makin bisa kondusif. Yang perlu kita jaga komunikasi antara cabang dengan pusat, dan kita organisasi dengan pemerintah. Ujarnya.

Harapannya Saya gak muluk muluk, yang jelas didepan kita ini, era sertifikasi, distribusi, DJOP  sudah jelas di submit, tahun ini. Cara distribusi obat yang baik, cara djop cara pembuatan obat, yang baik eranya sudah selesai, jadi sudah banyak pabrik industri yang minus, sekarang  eranya distribusi, ini yang mau kita sama sama, jangan sampai anggota ini blank, mau mengisi mereka, mulai dengan workshop, penyuluhan dari pemerintah, bagaimana seharusnya kedepan untuk mereka memenuhi  DJOP ini, lalu ada undang undang halal, maka kami expertnya dari  BPOM jatim, juga ada sertifikasi TKDN untuk industri, itu yang kantor pemerintah, kita hadapi bersama sama. Anggota industri sekitar  30 – 40, kalau PBF  300an. Toko obat juga banyak, tapi banyak yang belum terdaftar di GP Farmasi, ucapnya.

Kendala yang dihadapi GP farmasi, sebagai bangsa Indonesia tentunya tantangan dari luar, asing ini dengan berlakunya era JKN,  banyak asing yang melirik pasar Indonesia, makanya BPPOM pun dan dinkes mau tingkatkan daya saing kita, para pelaku usaha. Jangan sampai kita jadi tamu di Negara sendiri. Jadi kuncinya seperti itu kita tingkatkan daya saing kita, untuk menghadapi era globalisasi untuk menghadapi serangan dari luar, dari asing.  Bahan baku 98 persen (dari china, eropah india dan Amerika) masih impor, makanya kemenkespun sangat mendukung apabila ada pelaku usaha yang mau masuk kedunia bahan baku. Sudah ada, contohnya kalbe yang diresmikan Presiden bulan lau. Saya dengar ada satu lagi di Jakarta yang mau bangun pabrik bahan baku, bahan bakunya bukan secara kimia, tapi secara khusus. Juga untuk BUMN sudah di arahkan kesana dan sudah in progress kimia farma pabrik yodiumnya itu. Karena tekhnologi kita belum ada, dulu ada paracetamol yang dibuat di Jakarta itupun hanya assemble bahan  dasarnya  kita belum punya tekhologi dan harus impor. Ekonomi soft skill kita gak dapat, jadi kalau mau kita tidak boleh hanya melayani pasar Indonesia, jadi paling tidak pasar Asian atau asia, jika tidak kita tidak bisa efisien atau bersaing. Tutur Philips Pangestu.

Sementara itu, Ketua Umum  Jatim, Paulus Totok Lusida, APT, menyatakan, Inti persoalan yang ada di pharmasi itu, satu, makro ekonomi berpengaruh juga, dan mungkin deregulasi, dan peran pharmasi ini akan lebih kita tingkatkan untuk ikut berperan dalam regulasi, karena regulasi itu penting sekali, karena kalau kita tidak berperan, nanti malah perusahaan asing yang masuk. Nah sekarang dari pihak pemerintah dan legislatif  ini maunya gimana, itu aja, kalau mau nasional yang berperan, ayo kita diajak ngomong sama sama, jangan hanya peran asing saja, kalau terlalu complicated yang dituntut,  yang mampu asing, kadang  kita di ajak, proteksi itu harus ada, kalau tidak ada proteksi, rusak semua ujarnya.

Yang diharapkan dari pemerintah harus memenuhi standard, kan pasti, kita harus melihat kemampuan dalam negeri, kalau kita maunya cara bebas, kan  asing saja yang masuk nanti. Ayo kita duduk sama sama, kalau tidak sesuai aturan, ditangkap. Tapi tidak memberikan solusi pembinaan terhadap perusahaan daerah, kalau memandang nya hanya perusahaan besar, berapa  gelintir perusahaan, dalam negeri yang besar, yang lainnya perusahaan asing, ayo diajak bicara, mok nyontoh di properti,  properti itu begitu perhatian terhadap pengusaha didalam  negeri. Ucapnya.

Ditambahkan Totok, Yang mendesak, aturan aturan yang ingin diterapkan itu, itu memang  diperlukan, tapi bertahap. Kita ikutin bersama, apalagi kondisi makro ekonomi Indonesia yang masih  belum berjalan, memang pertumbuhan nasional  ada, tapi itu kebanyakan BUMN, lebih berperan di BUMN  dan asing yang ada, ayo kita sama sama yang swasta nasional ini diperhatikan, biar sama sama tumbuh. Sekarang orang bisa usaha  bahan baku, apa timbal baliknya, apa proteksinya,  supaya bahan itu dipakai. Sekarang kita  disuruh produksi tapi bersaing di internasional, sedangkan pemerintah sendiri dengan BUMN, kita swasta kalah dengan BUMN, karena BUMN tidak pernah menghitung bunga, kita kan menghitung bunga, ayo kita bersaing secara baik, sehat, maju bersama, itu aja keinginan dari GP Pharmasi tutur  Paulus Totok Lusida. (Nwi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here