IAKMI Gandeng UNAIR, Gelar Konferensi Nasional Tembakau 2018

0
169

SURABAYA SINAR POS – Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Jawa Timur (Jatim) bekerja sama dengan Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kegiatan tahunan bertajuk The 5th Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) 2018. Konferensi tersebut merupakan agenda rutin oleh Tobacco Control Support Center (TCSC). sebuah badan khusus pengendalian tembakau di bawah struktur organisasi IAKMI sebagai pengembangan dari kelompok kerja (pokja) Pengendalian Masalah Tembakau. Digelar pada Minggu–Selasa (6–8/5) di Hotel Bumi Surabaya, konferensi tersebut mengangkat tema ”Indonesia Bersatu Menciptakan Generasi Tanpa Tembakau.

Ketua IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia) Ridwan Taha  M Kes. menyatakan, Prevalansi dari tahun ke tahun terus meningkat, jadi saya tidak bisa bicara angka yang fix, karena di 2013 angkanya saya gak hafal. Jadi prevalansi makin meningkat dan usianya makin mudah saat ini. Sudah banyak upaya yang sudah dilakukan, membangun regulasinya, menyadarkan masyarakat menyadarkan teman teman di daerah, ini kalau bicara hasil, faktanya prevalansinya makin meningkat rokoknya makin mudah, upaya itu belum efektif kita laku lakukan untuk pengendalian rokok rokok itu ujarnya.

Upayanya belum maksimal, maksimal itu holistic, jadi kita tidak boleh ngomong soal tembakau, tapi sekaligus cari jalan keluar, itu akan menjadi sebuah hambatan pada saat kita kemudian akan ingin melakukan upaya upaya pengendalian tembakau itu sendiri.

Banyak kendalanya, yang jelas aspek prilaku, itu di individu individu, tapi kalau kita luaskan, ini ada hubungan dengan ekonomi, politik, kultur, dan budaya masyarakat yang tidak bisa didekati dengan peraturan yang sifatnya nasional. Perlu adanya peraturan peraturan yang sifatnya kedaerahan, tapi sekaligus perlu adanya peraturan yang dibangun sendiri oleh masyarakat. Katanya.

Jangan pemerintah tok, gak sanggup pemerintah, masyarakat termasuk media, berani enggak ngomongin, maksudnya kita semua ngomongin hal hal seperti itu. Tuturnya.

Ketua Panitia ICTOH 2018 Dr. Sri Widati, S.Sos., M.Si., memaparkan bahwa ICTOH digelar karena kondisi epidemic konsumsi rokok di Indonesia mencapai titik yang mengkhawatirkan. Indonesia, yang telah  ditetapkan organisasi kesehatan dunia (WHO) sebagai negara dengan perokok terbesar ketiga dunia dibawah China dan India.

”Remaja usia 13–15 tahun, 20 persenya perokok,” sebutnya. ”Karena itu, kami juga menggelar workshop berupa Youth Conference untuk anak-anak muda, yaitu diskusi dan kegiatan upaya mencegah merokok melalui kegiatan atraktif dan seru,” tambahnya.

Di sisi lain, soal konferensi tersebut, Dr. Santi Martini, dr., M.Kes, menjelaskan bahwa keterlibatan UNAIR, khususnya Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), menjadi momentum penguatan komitmen. Sebab, UNAIR termasuk perguruan tinggi yang memiliki komitmen pengendalian tembakau yang cukup tinggi.

Dr. Santi menambahkan bahwa komitmen itu terlihat dalam beberapa kebijakan. Di antaranya, UNAIR melarang adanya sponsorship kegiatan internal dari perusahaan rokok. Termasuk kerja sama maupun kerja sama dengan perusahaan-perusahaan tersebut.

”Karena ini orientasinya adalah pengendalian, dan pengendalian berhubungan dengan generasi. Institusi pendidikan menjadi penting untuk dilibatkan. Dan, UNAIR memeiliki komitmen untuk itu,” ungkapnya.

Menanggapi pelaksanaan konferensi tersebut, Dekan FKM UNAIR Prof. Dr. Tri Martiana dr., MS., menyatakan bahwa keterlibatan FKM terhadap permasalahan tembakau cukup lama. Keterlibatan itu menjadi audiensi bersama dengan pemerintahan dalam menentukan regulasi tentang masalah rokok atau tembakau.

”Kami sangat mendukung. Kolaborasi ke arah kebijakan regulasi terkait dengan tembakau memang harus didukung dengan penelitian serta diskusi yang mendalam. Ini penting agar generasi muda tidak tercemari dengan asap rokok,” tuturnya. (Nwi)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here