Schneider Electric Dukung Percepatan Pertumbuhan Industri 4.0

0
44

SURABAYA, SINAR POS –  Schneider Electric, perusahaan global dalam transformasi digital di pengelolaan energi dan otomasi, mengajak para pelaku industri, pembuat kebijakan dan asosiasi di Surabaya dan Kawasan Timur Indonesia untuk berbagi BOLD IDEAS dan berdiskusi bagaimana transformasi digital dalam pengelolaan energi menjadi aspek penting dalam percepatan pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut melalui acara tahunan Innovation Summit 2018 bertemakan “Powering & Digitizing the Economy” yang diselenggarakan di Surabaya pada 02 – 03 Mei 2018. Surabaya menjadi tuan rumah bagi penyelenggaraan Innovation Summit yang ke-2 setelah Jakarta pada tahun ini.

Digitalisasi telah menjadi agenda prioritas Pemerintah Indonesia melalui Roadmap Making Indonesia 4.0 termasuk digitalisasi dalam pengelolaan energi dan otomasi. Digitalisasi mengubah cara berbisnis, interaksi antara perusahaan dengan pelanggannya, serta meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global. Melalui digitalisasi, Indonesia diperkirakan dapat mencapai pertumbuhan ekonomi hingga USD 150 miliar per tahunnya pada 2025.1

Dengan penambahan lebih dari 7.000 MW pembangkit listrik hingga 2019, Kawasan Timur Indonesia menjadi prioritas percepatan pengembangan ekonomi dan pembangunan infrastruktur bagi pemerintah. Untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi energi di masa mendatang dengan pertumbuhan industri yang semakin cepat, Kawasan Timur Indonesia perlu segera mengadaptasi transformasi digital untuk meningkatkan efisiensi dalam penggunaan energi serta meningkatkan daya saing industri lokal di pasar global. Surabaya yang ditargetkan menjadi penghubung utama perdagangan dan logistik di Kawasan Timur Indonesia di tahun 2021 juga membutuhkan visi dan gagasan yang berani (‘BOLD IDEA’) untuk melakukan pengelolaan energi secara aman, andal, efisien, terhubung dan berkelanjutan. Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), dari 35 Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) Infrastruktur yang ditargetkan pemerintah, 19 WPS Infrastruktur berada di Kawasan Timur Indonesia; dan lebih dari 50 persen (26) dari total rencana pembangunan bendungan (65 bendungan) hingga 2019 berlokasi di Kawasan Timur Indonesia. Tidak hanya itu, 6 dari 13 kawasan industri yang beroperasi di 2018 ini berada di Kawasan Timur Indonesia.

Xavier Denoly, Country President Schneider Electric Indonesia mengatakan “Pengembangan ekonomi suatu daerah tidak terlepas dari aspek pengelolaan energi termasuk Kawasan Timur Indonesia yang belakangan ini sangat agresif dalam hal pembangunan infrastruktur dan ekonomi. Transformasi digital merupakan solusi untuk efisiensi dan ketersediaan energi yang berkelanjutan karena pada 20 tahun dari sekarang diperkirakan konsumsi energi akan meningkat 1,5 kali dan di saat yang bersamaan kita harus mengurangi setengah dari total emisi karbon dan melakukan efisiensi 3 kali lebih besar dari saat ini. Melalui Innovation Summit yang kedua ini, Schneider Electric berbagi pengetahuan dan keahlian dengan para pelaku industri dan pembuat kebijakan di Surabaya dan Kawasan Timur Indonesia untuk dapat melakukan percepatan dalam industri 4.0 untuk mengantisipasi hal tersebut.”

Selama dua hari penyelenggaraan Innovation Summit ini, Schneider Electric akan menampilkan inovasi terbaru sebagai layer ketiga dari EcoStruxure yaitu EcoStruxure Power Advisor dan EcoStruxure Building Advisor yang memberikan analisis komprehensif dari pengelolaan energi mencakup identifikasi kemungkinan terjadinya masalah dan memberikan laporan secara teratur sehingga memungkinkan perusahaan untuk membuat keputusan yang lebih terinformasi dan cepat. EcoStruxure merupakan platform IOT-enabled, plug-and-play, arsitektur terbuka dari Schneider, yang memberikan solusi end-to-end dalam enam area domain – Power, Teknologi Informasi, Bangunan, Mesin, Pabrik dan Jaringan (Grid) – untuk empat sektor pasar yaitu Bangunan, Pusat Data, Industri dan Infrastruktur.

“Di Indonesia, EcoStruxure telah banyak digunakan oleh para pelaku industri. Dalam 3 tahun terakhir, hampir 50 persen proyek bangunan baru terhubung dengan EcoStruxure Building, 80 persen pelanggan pusat data kami dikelola dengan EcoStruxure IT, dan lebih dari 1.200 gardu listrik PLN dimonitor dengan dukungan dari EcoStruxure Grid.,” ungkap Xavier.

EcoStruxure memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan kinerja bisnis melalui efisiensi operasional dan pengurangan biaya energi hingga 60 persen, pengurangan biaya integrasi hingga 50 persen dan pengurangan hingga 30 persen biaya operasional.

“RS Indriati, sebuah rumah sakit umum swasta yang berlokasi di Solo dapat menjadi contoh yang baik tentang bagaimana EcoStruxure dapat membantu pelanggan kami dalam memastikan ketersediaan dan keandalan distribusi energi dalam kegiatan operasional dengan efisiensi biaya operasional. Dengan EcoStruxure, RS Indriati diharapkan dapat mengurangi downtime hingga 40 persen karena pemadaman listrik, dan dapat menghemat energi dan biaya operasional hingga 30 persen per tahun. Kami berharap dapat membantu lebih banyak pelanggan seperti RS Indriati untuk mencapai kinerja terbaik mereka tanpa khawatir akan masalah pengelolaan energi.” Ungkap Martin Setiawan, Vice President Partner Project & EcoBuilding Business, Schneider Electric Indonesia.

Di sektor kesehatan, solusi EcoStruxure Power telah dipakai di sekitar 30 rumah sakit di seluruh Indonesia dalam rangka memastikan keselamatan pasien dan menghadirkan jaringan listrik yang andal dan pada saat yang bersamaan melakukan efisiensi energi. Solusi EcoStruxure Power kami juga telah dipercaya oleh 20 rumah sakit baru yang akan dibangun di Jakarta, Kalimantan, Sumatera dan Ambon yang targetnya akan selesai terpasang hingga akhir 2018.(Nwi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here