Warga Sambongdukuh Ramai Ramai Tuntut Transparansi Di Desanya

0
91

Jombang,- Sinar Pos

Warga Desa Sambongdukuh, Kecamatan Jombang ramai ramai mendatangi kantor desa setempat. (14/3).  Mereka menyuarakan beberapa tuntutan, diantaranya adanya transparansi pengelolaan anggaran dana desa tersebut.

Tidak tanggung tanggung dengan membawa berbagai peraga berisi tuntutan, warga mendesak agar   perangkat desa Kaur Kesra, Kaur Perencanaan/Bayan dan Kepala Dusun Sambongsantren diberhentikan dari jabatannya.

“Kami datang ke balaidesa untuk  konfirmasi dan memenuhi undangan dari pihak Pemdes. Nah, warga spontanitas datang, karena ingin tahu kejelasan pengadaan tanah makam, serta anggaran lain yang ada di desa Sambongdukuh selama ini,” jelas Muhammadun Basar (45)..

Basar menjelaskan saat pertemuan tadi diungkapkan, jika tanah yang akan diperuntukkan makam tersebut adalah jual beli dengan harga Rp 103 Juta. Namun dari data yang dimiliknya terdapat selisih dana antara harga tanah dengan hasil dari penarikan warga.

“Katanya tadi hasil jual beli, tapi tidak ditunjukkan bukti jual belinya. Namun dari data yang hingga saat ini kita kumpulkan, besaran tarikan tersebut terkumpul sekitar Rp 125 Juta. Data itupun belum selesai untuk dua warga perumahan, yakni Puri Sambong Permai dan Bale Ageng.  Selisihnya ini  kemana,” ungkapnya.

Selain pengadaan tanah makam, pihaknya juga mempertanyakan peruntukan tarikan dana Rp 10 ribu per KK di lingkup RW 1 Dusun Sambongsantren. Dari dana Rp 10 ribu tersebut yang Rp 5 ribu untuk rukun kematian, dan sisanya untuk Posyandu serta honor dua penjaga makam.

“Untuk honor penjaga makam, jika kita hitung seharusnya masing-masing penjaga makam menerima honor sebesar Rp 1,5 Juta per bulan. Namun, penjaga makam hanya menerima Rp 250 ribu per bulan. Sementara untuk dua tahun belakangan in honor penjaga makam dan posyandu didanai dari ADD. Tapi tarikan tersebut tetap berlaku hingga Februari 2018 kemarin,” urainya.

Selanjutnya terkait program bedah rumah tahun 2017 yang realisasinya terkesan tebang pilih. Pembangunan MCK umum yang dibangun di area rumah Kaur Perencanaan.

“Bagaimana tidak tebang pilih yang dibedah rumah adalah rumah milik ibunya M. Ayub yang tidak lain adalah Kaur Perencanaan atau Bayan. Dan yang namanya MCK umum seharusnya bisa dimanfaatkan oleh warga umum namun kenapa MCK tersebut hanya bisa diakses bagi keluarga pak Ayub. Ini jelas tidak beres,” jelasnya. (rid )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here