Sarat Jadi Pemimpin Itu Harus Percaya Diri Dan Bersungguh Sungguh

0
45

SURABAYA, SINAR POS – Disela sela Festifal Batik Hinggil, yang diselenggarakan di Grandcity Convex Surabaya hari Rabu (28/2) hingga Minggu (4/3),

Edy Susanto kepala sekolah Dasar Muhammadiyah 4 Surabaya mengatakan, Jadi kebetulan sekolah Muhammadiah 4  memang diminta oleh panitia untuk mengisi acara pada pembukaan dan juga hari sabtu kita ada pentas seni disini, semua tampilan itu tergabung dalam kegiatan ekstra kulikuler seperti itu. Jadi anak anak  dari gamelan, music, bahasa Inggris dan beberapa tampilan yang lainnya. Itu tampil disini dalam rangka mensukseskan pameran batik hinggil. Batik itu kan karya bangsa Indonesia, kita harus ikut menyemarakkan, mensukseskan kegiatan seperti ini. Dari kelas satu sampai kelas 6, yang tari dari kelas satu, yang kelas 6 revital ada, kita semua mendukung pameran batik  hinggil.

Kebetulan saya ini ketua senibudaya dari  pimpinan Muhammadiyah Surabaya, kebetulan sekolah saya, saya  maksimalkan dalam kegiatan seni dan budaya, jadi event seperti ini ada seni beladiri, ada seni music, seni lukis, seni tari, seni budaya yang ada di sekolah Muhammadiyah 4 kami lestarikan. Yang tradisional dan modern, seperti band, seni kaligrafi juga ada. Sudah 31 ektra kulikuler ditempat kita.

Ini banyak alat alat yang kita proleh dari tampilan anak anak ini, terutama  untuk melatih percaya diri, anak anak itu latihan, tapi ada juga yang masih takut.  Masih  kuatir, jangan jangan  hasilnya jelek, kita latih terus anak anak itu agar supaya percaya diri.

Untuk jadi pemimpin itu yang pertama harus percaya diri, yang kedua,  bersungguh sungguh,  karena latihan kalau tidak bersungguh sungguh, dia tidak bisa tampil, karena temannya bagus, dia jadi tidak bagus, ini jadi masalah, yang ketiga, akualisasi diri, dari bentuk akualisasi diri, anak anak ini harus kita salurkan,  kalau sudah berlatih, tidak ada akualisasi tidak ada penampilan, mereka akan jenuh, apalagi yang nonton banyak sekali, jadi sebuah kebanggaan, keempat membangun kerjasama, tampilnya harus kompak, harus disiplin, kalau tidak disiplin dia ditegor oleh temannya, oleh gurunya. Jadi banyak aspek untuk mendukung. Tampilnya lima menit, tapi efeknya sampai mereka tua, jadi anak ini merasa di hargai, merasa di epresiasi, tujuan pendidikan itu disitu, kemudian terciptalah jadi ber karakter. Pendidikan karakter  mulai dari ektrakulikuler, dan juga kita salurkan dalam tampilan tampilan. Itu semua kalau kita libatkan seluruhnya sampai hari sabtu jumlahnya sekitar 250. Karena kita kelas 3 kelas 3, jarang  kita ambil yang lulus lulus, kita kurangi untuk bersama sama. Jadi tampil yang revital ada 4 tampilan, satu anak 15 dikali 4, berarti  60. Belum  gamelan 32, belum nari, tarinya banyak  ada 3 tari, kemudian ada juga  tampilan bahasa jepang dan  beberapa tampilan yang lainnya banyak.

Kalau persiapan tidak terlalu lama, karena anak anak  sudah terbiasa latihan rutin, satu semester kemarin latihan, ini tampil hanya dibilang gladi resik saja. Tutur Edy Susanto. (Nwi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here