Berani, Tegas, komitmen

Berani,Tegas, komitmen

PELINDO III BERI KEPASTIAN BERAPA LAMA KAPAL SANDAR DI PELBUHAN

SURABAYA, SINAR POS – Dewan Pemakai Jasa Angkutan  (Depalindo)  Menyelenggarakan Kongresnya yang ke X di Surabaya Kamis (7/9).  Dengan Tema “ Mendorong Peningkatan Ekspor Nasional Dengan Menekan Biaya Logistik”.  General Manager  Pelindo III Cabang Tanjun Perak, Joko Nurhuda mengatakan, pihaknya berusaha memberikan value bagi  pengguna jasa kepelabuhanan. Kapal-kapal yang masuk Pelabuhan Tanjung Perak akan dipercepat kegiatan bongkar-muatnya. Lama aktivitas bongkar-muat yang  semula 26 jam bisa ditekan menjadi 23 jam. Dengan  memberikan kepastian berapa lama kapal sandar di pelabuhan,”  ujarnya.

Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) berjalan, menyebabkan produktivitas pelabuhan Tanjung Perak makin membaik. Biaya operasional kapal menjadi lebih rendah dan adanya kepastian  berapa lama kapal sandar di pelabuhan. Inilah yang  disumbangkan bagi logistik nasional. Kini, 60 persen petikemas domestik dan 40 persen petikemas internasional. Tahun 2016, produktivitas petikemas  domestik dan internasional mencapai 3,35 juta TEU’s, atau mengalami kenaikan  6,5 persen daripada sebelumnya. “Tak ada waiting time petikemas. Beroperasinya APBS mengakibatkan pergantian kapal satu dan lainnya jauh lebih cepat. Dulunya, skeitar 5 sampai 6 jam. Kini, bisa hanya dua jam saja,” ungkap  Joko Nurhuda.

Sementara , Ketua Umum Depalindo Toto Dirgantoro mengatakan,  saat ini biaya logistik yang masih dirasakan para pengguna jasa angkutan terutama pada eksportir yakni berada di kisaran 15 persen – 20 persen. Angka ini  masih sangat tinggi dalam biaya produksi, karena biasa logistik itu idealnya berkisar antara  9 persen hingga 12 persen,  cetusnya.

Logistic Perform Index Indonesia per 2016 masih di peringkat ke 63, kalah dengan Thailand (peringkat 45), Malaysia (32) dan Vietnam (64).  Faktor yang harus diselesaikan adalah efisiensi kepelabuhanan, infrastruktur, sarana prasarana dan pungutan liar jika perizinan lama dan tarif pelabuhan itu sendiri. kondis ini menyebabkan daya saing kita pun jadi lemah kalah dengan Vietnam. Ekspor kita bahkan sulit tumbuh.  Kondisi ini menyebabkan para pengusaha berbasis ekspor saat melakukan pengiriman barang, yakni adanya hambatan di nota pembetulan sehingga barang jadi tertahan.

Sementara itu, di bagian karantina tidak semua pelabuhan memiliki Tempat Pemeriksaan Fisik Terpadu (TPFT) sehingga berpengaruh pada cost logistic.
Berdasarkan data Depalindo, kinerja ekspor secara nasional pada periode Januari-Juli 2017 mencapai US$84,4 miliar atau 7% dibandingkan periode yang sama 2016 yakni US$72,2 miliar. Khusus ekspor Jatim pada periode tersebut tahun ini mengalami defisit yakni hingga Juli 2017 tercapai US$10,2 miliar atau turun dibandingkan periode sama 2016 yakni US$10,7 miliar. Sedangkan nilai ekspor justru lebih besar yakni US$10,28 miliar. Penurunan volume ekspor ini memang disebabkan oleh market yang turun dan belum bergairah dan daya saing yang kalah dengan beberapa negara lain, tuturnya. (Nwi)

 

Komentar anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *