Praktik Esek-Esek Eks-Lokalisasi Sememi Masih Beroperasi

0
832

SURABAYA (SP)- Wisata lendir di eks- lokalisasi Sememi yang berada dikelurahan Sememi, kecamatan Benowo, Surabaya nampaknya masih terus berlangsung dengan massif. Padahal, sejatinya lokalisasi itu resmi ditutup oleh pemerintah kota Surabaya sejak tanggal 23 Desember 2013.

Kegiatan haram tersebut sebenarnya secara nalar dan yuridis sudah sangat ilegal. Terlebih bila diterus dibiarkan, tanpa atensi khusus dari pemerintah kota pahlawan, Surabaya.

Penelusuran Sinar Pos (13/5) malam dilokasi yang lazim disebut ‘Moroseneng’ mengilustrasikan, begitu banyaknya calo atau mucikari yang menawarkan jasa ‘surga dunia’ atau prostitusi secara silent (terselubung).

“Ayo mas barang baru,  mampir disek (dulu), murah,” tawar mucikari pria yang berada persis disebelah jalan Sememi gang 1. Mucikari itupun tak jarang memaksa para pengendara motor yang melintas dijalan Sememi gang 1 agar bersedia mampir diwisma yang tampak gelap itu.

Sementara itu, tak sulit pula bila ingin menemukan gadis ABG sampai wanita STW, yang berpenampilan sangat menggoda ditambah busana yang begitu minim dan seksi berlalu lalang disepanjang jalan dengan maksud menggoda calon pemesannya.

“Mas, sini mampir dulu. Ayo masuk. Gak usah isin (malu),” rayu gadis ABG yang mengaku bernama samaran Dea. Dea yang mengaku berusia 22 tahun ini bekerja mulai pukul 5 sore hingga 3 pagi dini hari. “Aku disini aku kerja dari sore tadi sampai nanti pagi,” ungkap gadis yang mengaku asal kota Batu, Jatim.

Dea tak sendiri, teman-teman seprofesinya yang kerap disebut ‘kupu kupu malam’ ini juga tak segan merayu kepada pengendara yang berkendara di gang sempit dengan panjang tak sampai 20 meter dan lebar hanya 3,5 meter.

Bahkan ada satu cerita yang didapat Sinar Pos dalam penelusurannya dari warga setempat, menurut Ratno, kadang perempuan malam itu tak segan banting harga agar menarik pria hidung belang. “Ngawur mas, masa kadang dia menjajakan dengan harga 50 ribu aja,” jelas pria asli kabupaten Nganjuk itu.

Sebagaimana diketahui, prostitusi ilegal itu masih terus berlangsung dari awal penutupan hingga kini. Yang membedakannya adalah, bila sebelum resmi ditutup kegiatan haram itu berlangsung dengan model membahana atau terang benderang, namun setelah pemkot Surabaya resmi menutup pada 2013 silam, kegiatannya berganti model silent atau tersembunyi. (Rik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here